News  

Empathy First: Mengutamakan Empati dalam Berkomunikasi dan Berbahasa Indonesia (Momentum Bulan Bahasa) 

Oleh H Afan Faizin Mpd sebagai Dosen FIPS Unitomo Surabaya

Momentum Bulan Bahasa dan Sastra yang diperingati setiap bulan Oktober selalu menjadi saat yang tepat untuk merenungkan kembali bagaimana kita menggunakan bahasa Indonesia sehari-hari. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi untuk menyampaikan informasi atau sekumpulan aturan tata bahasa baku. Lebih dari itu, bahasa adalah jembatan rasa. Di era digital yang serba cepat seperti sekarang, prinsip empathy first (mengutamakan empati) dalam berbahasa menjadi kunci utama untuk merawat persatuan dan kemanusiaan.

Mengapa Empati Harus Menjadi yang Utama? 

Berkomunikasi dengan empati berarti kita berusaha memahami sudut pandang, perasaan, dan situasi lawan bicara sebelum memilih kata-kata yang akan diucapkan atau ditulis. Tanpa empati, bahasa Indonesia yang kita gunakan berisiko menjadi senjata yang tajam.

Di media sosial, kita sering melihat bagaimana bahasa digunakan secara agresif mulai dari komentar bernada menghakimi, perundungan siber(cyberbullying), hingga penyebaran misinformasi yang memecah belah. Ketika kita menempatkan empati di depan, kita akan berpikir dua kali: “Apakah kats kata saya ini akan menyakiti orang lain?” atau “Bagaimana jika posisi saya dibalik menjadi orang yang menerima pesan ini?”

Pilar Empathy First dalam Berbahasa Indonesia

Menerapkan empati dalam berbahasa Indonesia dapat diwujudkan melalui beberapa langkah sederhana namun berdampak besar:

Pilihan Kata yang Santun dan Inklusif: Memilih diksi yang merangkul dan menghargai perbedaan. Hindari kata-kata yang merendahkan fisik, suku, ras, agama, atau status sosial seseorang.

Mendengarkan untuk Memahami, Bukan Membantah: Empati dalam berkomunikasi dimulai dari telinga. Berikan perhatian penuh saat orang lain berbicara tanpa terburu-buru memotong atau menyiapkan argumen sanggahan.

Menjaga Jari di Ruang Digital: Sebelum menekan tombol kirim atau komentar, saring kata-kata kita dengan rasa peduli. Bahasa tulisan tidak memiliki nada suara, sehingga pemilihan kata yang lembut sangat penting agar tidak menimbulkan salah paham.

Menghindari Penghakiman Logis (Tabula Rasa): Memahami bahwa setiap orang memiliki latar belakang dan tingkat pemahaman yang berbeda. Mengedukasi atau mengoreksi kesalahan berbahasa orang lain pun harus dilakukan dengan cara yang sopan dan tidak mempermalukan.

Refleksi Bulan Bahasa: Bahasa yang Menyatukan

Sumpah Pemuda tahun 1928 telah mengikrarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Di era modern ini, tugas kita bukan lagi memperjuangkan pengakuannya, melainkan menjaga kualitas interaksinya.

Menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang berempati berarti kita sedang merawat identitas bangsa yang ramah, berbudaya, dan bergotong royong. Mari jadikan momentum Bulan Bahasa ini sebagai titik balik untuk lebih bijak, lebih lembut, dan lebih memprioritaskan perasaan sesama dalam setiap tutur kata. Sebab pada akhirnya, kata kata yang lahir dari hati akan selalu sampai ke hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *