Seputarindonesia.co.id. Jakarta-Hikmat Mengubah Cara Pandang : Kunci Memahami Jalan Hidup Sesuai Kehendak Tuhan.
Renungan, Senin – 14 September 2026.
Oleh : Dr. Philip S.Buulolo.
Hikmat Membuat Kita Melihat Dengan Benar.
Amsal 14 : 8
“Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik, tetapi orang bebal ditipu oleh kebodohannya.”
Dua orang dapat melihat keadaan yang sama, tetapi mengambil kesimpulan yang berbeda. Yang satu hanya melihat kesulitan, sedangkan yang lain melihat kesempatan untuk bertumbuh. Yang satu bereaksi berdasarkan ketakutan, sedangkan yang lain berhenti, berdoa, dan berusaha memahami apa yang sedang Tuhan kerjakan.
Melihat dengan benar bukan hanya pekerjaan mata, tetapi juga pekerjaan hati dan pikiran. Mata dapat melihat kejadian, tetapi hikmat menolong kita memahami arti, penyebab, risiko, dan kemungkinan yang tersembunyi di balik kejadian tersebut.
Amsal berkata bahwa hikmat orang cerdik adalah “mengerti jalannya sendiri.” Orang berhikmat tidak hanya memperhatikan keadaan di luar dirinya. Ia juga berani memeriksa arah hidup, motivasi, kebiasaan, kekuatan, kelemahan, dan akibat dari setiap langkah yang sedang ditempuhnya.
Sebaliknya, orang bebal dapat ditipu oleh kebodohannya sendiri. Ia melihat apa yang ingin dilihat, mempercayai apa yang sesuai dengan keinginannya, dan menolak kenyataan yang tidak disukainya. Akibatnya, ia dapat merasa benar ketika sebenarnya sedang berjalan menuju keputusan yang salah.
Kesalahan dalam melihat akan menghasilkan kesalahan dalam memilih dan bertindak. Seperti seorang dokter yang harus memberikan diagnosis dengan benar sebelum menentukan pengobatan, demikian pula kita harus memahami persoalan dengan tepat sebelum mengambil keputusan. Diagnosis yang salah dapat melahirkan tindakan yang salah.
Hikmat menolong kita membedakan antara fakta dan asumsi, antara kesempatan dan pencobaan, antara keberanian dan kecerobohan, serta antara teguran dan penolakan. Tidak semua pintu yang terbuka berasal dari Tuhan, dan tidak semua pintu yang tertutup berarti Tuhan meninggalkan kita.
Melihat dengan benar juga berarti melihat orang lain secara utuh. Jangan menilai seseorang hanya berdasarkan penampilan, kelemahan, kegagalan, atau masa lalunya. Hikmat menolong kita melihat potensi, pergumulan, dan karya Tuhan yang mungkin sedang berlangsung dalam kehidupannya.
Hikmat menyentuh seluruh kehidupan kita. Dalam roh, kita meminta penerangan dari Tuhan melalui doa dan Firman-Nya. Dalam jiwa, kita menenangkan pikiran serta mengendalikan emosi agar tidak terburu-buru menyimpulkan. Melalui tubuh dan pancaindra, kita mengamati fakta, mendengarkan dengan saksama, dan memperhatikan keadaan secara teliti.
Kelimpahan dapat hilang ketika kita salah melihat. Kesempatan dianggap gangguan, nasihat dianggap serangan, proses dianggap kegagalan, dan berkat dianggap beban. Sebaliknya, hikmat membuat kita mampu mengenali nilai, peluang, pelajaran, dan pertolongan Tuhan yang tersembunyi di dalam keadaan sederhana.
Sebelum bereaksi terhadap sesuatu, berhentilah dan bertanyalah, “Apakah yang benar-benar aku ketahui? Apakah yang hanya aku asumsikan? Apakah emosiku sedang memengaruhi penilaianku? Apakah Firman Tuhan berkata tentang keadaan ini? Adakah nasihat dari orang yang dewasa secara rohani yang perlu aku dengarkan?”
Jangan hanya meminta Tuhan mengubah keadaan. Mintalah agar Tuhan mengubah cara kita melihat keadaan. Ketika pandangan kita diterangi oleh hikmat-Nya, kita dapat mengenali jalan yang benar, menjaga apa yang telah dipercayakan, dan melangkah menuju kelimpahan sesuai dengan kehendak Tuhan.(Aro Ndraha/red).







