Dosa yang di Sembunyikan Menggerogoti Kehidupan Rohani” Pertobatan Satu-Satunya Jalan Pemulihan.

“Renungan Harian”

Seputarindonesia.co.id.Jakarta-
Menjalani kehidupan yang tampak baik di luar belum tentu mencerminkan kekuatan batin yang utuh. Sebaliknya, ada sesuatu yang perlahan menguras kekuatan jiwa dan roh seseorang tanpa disadari orang lain, yaitu dosa yang terus disembunyikan. Hal ini menjadi pesan utama dalam Renungan Harian yang disampaikan Dr. Philip S. Buulolo pada Senin, 24 Agustus 2026, dengan mengambil dasar Mazmur 32:3–5.

Dalam penjelasannya, Dr.Phlip S. Buulolo mengutip pengakuan Raja Daud: “Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari.” Menyembunyikan kesalahan ternyata tidak hanya membebani batin, tetapi juga melemahkan seluruh kehidupan. Semakin lama ditutupi, semakin dalam dampaknya terhadap sukacita, keberanian, kepekaan rohani, serta kedekatan dengan Tuhan.

Contoh lain terlihat dari kisah Ahan dalam kitab Yosua pasal 7. Setelah kemenangan gemilang atas Yerikho, bangsa Israel justru menderita kekalahan memalukan di kota Ai. Penyebabnya bukan kekuatan musuh, melainkan dosa yang tersembunyi di tengah jemaat. Sesuatu yang dipendam ternyata mampu meruntuhkan kekuatan sekelompok orang sekaligus.

“Dosa yang disembunyikan mencuri kuasa. Bukan karena Tuhan kehilangan kuasa-Nya, tetapi karena dosa merusak hubungan dan ketaatan kita kepada-Nya. Doa terasa hambar. Firman Tuhan tidak lagi menggugah hati. Ibadah menjadi rutinitas. Pelayanan dilakukan tanpa sukacita,” tegasnya Dr.Philip S. Buulolo.

Sering kali manusia lebih takut dosanya diketahui sesama manusia daripada takut merusak hubungannya dengan Tuhan. Segala upaya dilakukan untuk menjaga citra, menutup kelemahan, mencari alasan, bahkan menyalahkan keadaan. Padahal tidak ada yang tersembunyi bagi Tuhan. Ia mengetahui bukan untuk mempermalukan, melainkan supaya orang datang mengaku dan dipulihkan.

Jalan keluar yang ditemukan Daud tetap berlaku hingga kini: “Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan.” Pemulihan dimulai saat persembunyian berakhir. Selama menutupi kesalahan, seseorang justru menghabiskan energi secara sia-sia. Namun saat diakui dengan tulus, kasih karunia Tuhan membuka jalan bagi pengampunan sepenuhnya.

Mengakui dosa bukan sekadar perasaan bersalah. Pertobatan sejati berarti menyadari kesalahan, meninggalkannya, dan kembali berjalan dalam ketaatan. Tuhan Yesus tidak memanggil orang hidup dalam penghukuman terus-menerus, melainkan memanggil keluar dari kegelapan menuju terang kasih karunia-Nya.

Renungan ini mengajak setiap orang memeriksa diri hari ini. Mungkin bukan dosa yang diketahui banyak orang, melainkan hal yang hanya diketahui bersama Tuhan: kebiasaan keliru, ketidakjujuran, pikiran jahat, kepahitan hati, kompromi, kemalasan, atau tindakan yang sengaja ditutupi.

“Jangan menunggu sampai apa yang tersembunyi mulai menghancurkan apa yang terlihat,” pesan Buulolo.

Roh manusia membutuhkan persekutuan yang benar dengan Tuhan. Jiwa memerlukan kebebasan dari rasa bersalah dan kehidupan ganda. Tubuh perlu dipakai untuk melakukan kebenaran. Semua itu baru tercapai ketika dosa dibereskan melalui pertobatan sungguh-sungguh.

Tidak ada dosa yang terlalu tersembunyi bagi Tuhan untuk melihatnya, dan tidak ada orang yang sungguh-sungguh bertobat yang terlalu jauh bagi kasih karunia Tuhan untuk memulihkannya. Karena itu, jangan biarkan dosa yang disembunyikan mencuri kekuatan kehidupan rohani. Bawalah semuanya kepada Tuhan Yesus Kristus. (Aro Ndraha/red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *