Seputarindonesia.co.id. Gunungsitoli- Merosotnya rasa nasionalisme, maraknya penyebaran hoaks, hingga ancaman radikalisme di era digital memicu kekhawatiran serius terhadap keutuhan bangsa. Menanggapi fenomena ini, Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara (Sumut) dari Fraksi Partai Golkar, Megawati Zebua, menggelar kegiatan Penyebarluasan Ideologi Pancasila dan Penguatan Wawasan Kebangsaan di Kepulauan Nias berlokasi di Desa Dahana Tabaloho Kota Gunungsitoli, pada Selasa (11/8/2026). Selain menyoroti degradasi moral, legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) 8 Kepulauan Nias ini juga langsung bergerak cepat menampung aspirasi masyarakat terkait anggaran dana hibah untuk pembangunan rumah ibadah di daerah Kepulauan Nias.
Masyarakat Nias Meminta Atensi Gubernur Sumut Bobby Nasution Prioritaskan Nias.
Dalam forum diskusi yang dihadiri antusias oleh masyarakat setempat, Megawati Zebua yang terpilih kembali untuk periode 2024–2029 setelah sebelumnya mengabdi di periode 2021–2024, menegaskan komitmennya untuk mengawal ketat anggaran pembangunan. Dirinya meminta warga segera mengumpulkan dan menyerahkan kembali proposal pembangunan rumah ibadah agar bisa diakomodir pada akhir tahun 2026.
“Kita sangat berharap kepada Bapak Gubernur Sumut Bobby Nasution untuk bisa menggelontorkan anggaran pembangunan di wilayah Kepulauan Nias. Momentumnya sangat tepat karena saat ini Gubsu sedang berkantor di Kepulauan Nias,” ujar Megawati tegas saat diwawancarai di sela-sela kegiatan.
Ancaman Radikalisme dan Krisis Toleransi di Media Sosial.
Senada dengan hal tersebut, Staf DPRD Provinsi Sumut, Yones Laia, M.Si., yang hadir sebagai pemateri memaparkan bahwa tantangan terbesar bangsa saat ini adalah menurunnya rasa hormat terhadap lambang negara serta menipisnya toleransi akibat pengaruh paham radikal dan terorisme. Padahal, ia menekankan bahwa wilayah Kepulauan Nias selama ini dikenal sebagai wilayah yang bebas dari intoleransi dan menjunjung tinggi keberagaman adat serta budaya.
“Kita harus menghentikan tindakan oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang egois dan tidak menghargai sesama. Di zaman digital ini, masyarakat harus ekstra bijak dalam bermedia sosial. Saring sebelum sharing untuk mengantisipasi hal negatif atau berita hoaks yang belum jelas kebenarannya,” kata Yones Laia.
Pola Hidup Gotong Royong dan Edukasi Generasi Muda.
Di akhir pemaparannya, Yones mengingatkan kembali esensi Bhinneka Tunggal Ika demi menjaga kerukunan antarsesama. Menurutnya, literasi digital yang sehat sangat krusial, terutama dalam mendidik anak-anak sebagai generasi penerus nusa dan bangsa. Ia mengajak seluruh elemen warga untuk aktif berkomunitas, menjaga persatuan, serta mendukung penuh program pembangunan yang dicanangkan oleh Pemerintah Pusat secara nasional.
Acara yang berlangsung tertib dan tajam ini ditutup dengan sesi ruang diskusi interaktif. Masyarakat yang hadir memanfaatkan momen tersebut untuk berdialog langsung dan menyampaikan berbagai keluhan serta harapan pembangunan kepada perwakilan rakyat mereka. (Aro Ndraha/red).







