MOJOKERTO, 22 Oktober 2026 — Upacara peringatan Hari Santri Nasional digelar di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Kabupaten Mojokerto. Kegiatan dihadiri Camat Pacet, Kapolsek, Danramil, para tokoh masyarakat, serta ribuan santri dan sivitas akademika lingkungan Amanatul Ummah.
Dalam sambutannya, Prof. Dr. KH. Asep Saifudin Chalim, M.A. mengajak seluruh santri untuk senantiasa menanamkan semangat cinta tanah air.
“Hubbul waton minal iman. Cinta terhadap tanah air merupakan bagian daripada iman. Cintailah tanah airmu. Dan jangan sekali-kali kita menjadi para pengkhianat tanah air.”
Kiai Asep menuturkan bahwa keberadaan Pondok Pesantren Amanatul Ummah telah diprediksikan puluhan tahun silam oleh pendirinya, KH. Abdul Halim, bahkan sebelum pesantren ini berdiri. Beliau bercerita bahwa KH. Abdul Halim sejak tahun 1950-an telah meyakini kelak akan lahir sebuah pesantren besar di wilayah Kembang Belor dan Bendungan Jati. Bahkan warga setempat pun merasakan hal yang sama, bahwa tempat yang dulu sepi itu kelak akan menjadi ramai dan pusat peradaban.
Kisah perjuangan pendiri Amanatul Ummah pun disampaikan, bagaimana KH. Abdul Halim berjalan kaki dari Lewi Munding ke Surabaya selama 14 hari, singgah di Tebuireng dan Krian, bukan karena tidak ada kendaraan lain, melainkan ingin dekat dengan bumi dan rakyat Indonesia, sekaligus memperkuat ukhuwah ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan.
“Beliau sengaja mengambil cara dengan berjalan kaki. Padahal kereta api ada, tetapi beliau memilih jalan kaki karena ingin dekat dengan bumi Indonesia, ingin menumbuhkan hubbul waton di tengah penjajahan.”
Kiai Asep juga mengingatkan kembali tujuan didirikannya Nahdlatul Ulama oleh para ulama pesantren, yaitu Indonesia merdeka dan persatuan kekuatan pesantren. Saat ini, lanjutnya, perjuangan belum selesai — kemerdekaan harus dilanjutkan dengan mewujudkan Indonesia yang maju, adil, dan makmur.
Ia juga menyampaikan rencana pengembangan Universitas Kiai Haji Abdul Halim yang diharapkan menjadi universitas bertaraf internasional, tak hanya bidang agama, tetapi juga sains, pertanian, teknik, hukum, keguruan, serta kesehatan dan kedokteran.
Di akhir sambutan, Kiai Asep mengajak seluruh santri untuk berikrar menjadi generasi unggul: ulama, ilmuwan, pemimpin bangsa, konglomerat yang bermanfaat, serta profesional bertanggung jawab — semata-mata demi kemuliaan Islam dan kejayaan bangsa Indonesia. (hr)







