News  

Gaji Utama Utuh Ditabung, Perangkat Desa di Ngoro Ini Sulap Teras Rumah Jadi Mesin Uang

Teks foto : Effendi berjuang keras memajukan bisnisnya

JOMBANG – Menjadi perangkat desa, menjadi pelayan masyarakat di balai desa tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Hal inilah yang telah dilakoni Mochamad Effendi (55) bertahun-tahun di Desa Badang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang. Namun, tak hanya mengandalkan pendapatannya sebagai aparatur desa, Effendi juga menghadirkan solusi keuangan bagi para tetangganya.

Di tengah kesibukannya menjadi pelayan masyarakat di desa, Effendi menangkap peluang bisnis untuk meningkatkan pendapatannya bersama keluarga. Dari berbagai aktifitas yang dilakoninya, ia akhirnya menyulap rumahnya menjadi kantor bank mini, alias menjadi Agen Laku Pandai BRI, Brilink.

Kisah manis ini sebenarnya berakar dari rekam jejak Effendi yang sudah lama lekat dengan urusan hajat hidup orang banyak. Jauh sebelum era digitalisasi keuangan merambah pelosok desa, ia adalah sosok yang telaten mengelola Koperasi Unit Desa (KUD) Badang, melayani mulai dari pembayaran listrik hingga simpan pinjam warga.

Kepercayaan masyarakat yang sudah terbangun itulah yang menjadi modal terbesarnya ketika angin perubahan datang pada tahun 2016. Saat itu, seorang Mantri dari Bank Rakyat Indonesia yang jeli melihat potensi jaringan Effendi, datang menawarkan kemitraan Agen BRILink.

“Awalnya saya memang sudah terbiasa melayani masyarakat lewat KUD. Jadi, ketika ada tawaran dari BRI untuk jadi agen BRILink, saya langsung tertarik mencobanya,” kenang Effendi.

Berbekal mesin Electronic Data Capture (EDC) dari BRI, Effendi menyulap rumahnya menjadi loket layanan finansial serba ada. Warga yang dulu harus menempuh jarak jauh ke pusat kecamatan kini cukup datang ke rumahnya untuk membayar tagihan listrik, melakukan setor dan tarik tunai, mentransfer uang ke anak yang bersekolah di luar kota, hingga membayar angsuran.

“Awalnya saya hanya coba-coba saja, tapi setelah dijalani, respons masyarakat ternyata sangat bagus. Saya juga tidak diam, saya aktif menawarkan layanan ini ke teman-teman, tetangga, dan saudara,” tuturnya.

Pelayanan yang ramah, cepat, dan terpercaya membuat getok tular berjalan efektif. Mesin EDC di rumahnya nyaris tak pernah beristirahat. Untuk menjaga ritme operasional agar tugasnya sebagai perangkat desa tidak terbengkalai, Effendi bahu-membahu menjalankan usaha ini secara bergantian bersama istri dan anaknya.

Hasil dari ketekunan keluarga ini sungguh tak main-main. Dalam sebulan, transaksi yang dilayani Effendi melonjak di angka 600 hingga 1.000 kali. Hitungan kasar Eefendi, dalam satu bulan hasil transaksi Agen Brilink ini, menyumbang tambahan penghasilan dirinya antara Rp.3 juta sampai Rp.5 juta per bulan.

“Alhamdulillah, dari BRILink ini saja sudah cukup untuk kebutuhan harian. Jadi, gaji dari perangkat desa malah hampir tidak pernah terpakai dan bisa utuh ditabung,” pungkasnya sambil tersenyum.

Kisah Mochamad Effendi dari Desa Badang ini menjadi potret nyata bagaimana inklusi keuangan yang didorong oleh perbankan tak sekadar mendekatkan akses perbankan ke masyarakat pedesaan. Lebih dari itu, program ini menjelma menjadi jalan pembuka rezeki bagi mereka yang tekun dan jeli melihat peluang, membuktikan bahwa siapa saja bisa menjadi jutawan dari teras rumahnya sendiri. ,(,rh).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *