Seputarindonesia.co.id. Gunungsitoli- Pasca-ambruknya tembok pembatas proyek Revitalisasi SMAN Unggulan Sukma Nias bernilai Rp87,34 miliar, Ketua Perhimpunan Pemuda Jurnalis Nias (Projo Nias) Darwis Zendrato menuntut pemeriksaan menyeluruh terhadap mutu material, komposisi adukan, hingga sistem struktur dan pondasi tembok. Seruan ini disampaikan pada Senin (31/8/2026) kepada awak media, menegaskan keruntuhan tidak boleh diabaikan begitu saja maupun sekadar diperbaiki tanpa mengetahui akar penyebabnya.
Darwis menegaskan, keruntuhan konstruksi bukan sekadar peristiwa fisik yang sudah lewat, melainkan pintu masuk untuk memeriksa bagaimana tembok itu dibangun sejak awal.
“Kalau kita melihat bagian yang roboh, pertanyaannya harus lebih spesifik. Apa kualitas material yang digunakan? Semen apa yang dipakai? Bagaimana komposisi adukannya? Bagaimana kualitas pasangan batanya? Bagaimana sloof bertumpu? Dan yang paling penting, bagaimana sistem pengikatan struktur tersebut dengan pondasi?” ujarnya Darwis.
Mutu Material dan Campuran Dipertanyakan.
Darwis menyoroti bahwa tampilan luar tembok tidak mencerminkan kualitas di dalam. Pasir, semen, dan batu bukan sekadar bahan bangunan — kualitas serta perbandingan campurannya sangat menentukan kekuatan struktur. Ia meminta kontraktor membuktikan dengan data teknis: berapa takaran semen, pasir, dan agregat yang digunakan? Apakah mutu pasir memenuhi syarat? Apakah pencampuran sesuai spesifikasi?
“Kalau memang mutunya bagus, silakan buktikan dengan hasil pengujian. Kalau materialnya sesuai, tunjukkan spesifikasinya. Masyarakat jangan hanya disuguhi klaim, tetapi harus ada bukti teknis,” tegasnya.
Sistem Pondasi dan Pengikatan Struktur Harus Terbuka.
Selain material, sistem struktur menjadi sorotan utama. Bagaimana hubungan antara pondasi, balok sloof, dan tembok dirancang serta dilaksanakan? Apakah sloof hanya bertumpu pada batu kali tanpa tiang pengikat yang memadai? Semua itu, kata Darwis, harus dibuka berdasarkan gambar kerja dan kondisi fisik di lapangan — bukan sekadar penjelasan lisan.
Kontraktor Diminta Tunjukkan Bukti, Bukan Klaim “Sudah Sesuai”
PT Razasa Karya selaku pelaksana pekerjaan dinilai wajib menjelaskan seluruh proses: dari material yang masuk, pengawasan pencampuran, pengecoran, hingga pengendalian mutu. Klaim “sudah sesuai” harus dibuktikan dengan dokumen — gambar kerja, spesifikasi teknis, laporan pengujian, dan dokumentasi setiap tahapan.
“Jangan hanya mengatakan pekerjaan sudah sesuai. Sesuai yang mana? Sesuai gambar? Sesuai spesifikasi? Sesuai mutu? Semuanya harus bisa dibuktikan,” tandasnya.
Jangan Buru-buru Perbaiki Tanpa Tahu Penyebab.
Darwis memperingatkan agar pihak terkait tidak terburu-buru memperbaiki tembok yang roboh tanpa menemukan dulu penyebab teknisnya. Dengan panjang tembok mencapai sekitar 800 meter, keruntuhan pada satu bagian harus dijadikan peringatan untuk memeriksa keseluruhan konstruksi.
“Jangan hanya diperbaiki bagian yang roboh. Cari tahu dulu mengapa roboh. Kalau penyebabnya tidak ditemukan, bagaimana kita memastikan bagian lain tidak mengalami persoalan yang sama? Jangan menunggu bagian lain roboh baru dilakukan pemeriksaan.”
Pengawasan Mutu Selama Pekerjaan Juga Dipertanyakan.
Ia juga menyoroti siapa yang memeriksa material saat tiba di lokasi, siapa yang mengawasi pencampuran, pengecoran, dan pembesian. Mengapa pengendalian mutu baru dipertanyakan setelah tembok ambruk. Proyek pendidikan senilai puluhan miliar, katanya, tidak boleh mengorbankan kualitas demi kecepatan atau efisiensi.
“Yang dibangun bukan kandang. Ini fasilitas pendidikan. Karena itu, standar pengerjaannya harus benar-benar diperhatikan.”
Hingga Kini Pihak Terkait Belum Menanggapi.
Sampai berita ini diturunkan, upaya konfirmasi kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) maupun PT Razasa Karya belum memperoleh tanggapan. Pesan telah diterima namun belum dijawab. Ruang hak jawab tetap terbuka bagi semua pihak untuk menyampaikan klarifikasi serta data teknis yang menjelaskan penyebab keruntuhan dan kualitas pekerjaan.
“Kalau kontraktor yakin pekerjaannya benar, buktikan. Kalau materialnya sesuai, buktikan. Kalau pondasinya sesuai gambar, tunjukkan. Keterbukaan data justru akan menghentikan segala spekulasi di masyarakat,” pungkas Darwis. (Aro Ndraha/red).







