Seputarindonesia.co.id.Jakarta-
Setiap 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Momen ini bukan sekadar rutinitas kenang-kenangan, melainkan panggilan kembali ke fondasi tertinggi bangsa yang terbukti tetap tegak meski badai perpecahan sempat menerpa. Pancasila tetap hidup dan berfungsi sejauh setiap warga negara sungguh-sungguh menjaganya, bukan sekadar menyebutnya di atas kertas atau prasasti.
Pernyataan mendalam ini disampaikan oleh Ketua Umum Aliansi Cyber Pers Aktivis Indonesia sekaligus Pimpinan Redaksi Media Aktivis Pers – Indonesia.Co.Id, Herry Setiawan, S.H., C.BJ., C.EJ., pada Kamis (1/10/2026) dalam refleksi peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Jakarta.
Menurut Herry, makna “kesaktian” bukan berarti sesuatu yang bersifat gaib atau di luar kemampuan manusia. Kesaktian Pancasila sesungguhnya terletak pada kekuatan kebersamaan yang dijaga terus-menerus oleh seluruh rakyat.
“Kesaktian Pancasila bukan berarti ia kebal dari ujian. Ia tetap sakti selama kita menjaganya. Jika kita membiarkan perpecahan, membiarkan kebencian menguasai, maka Pancasila tinggal tulisan saja,” tegasnya.
Lima sila yang menjadi dasar negara itu bukan sekadar urutan kata yang kaku, melainkan satu kesatuan utuh yang saling mengisi dan melengkapi:
● Ketuhanan berarti tidak saling menindas atas nama Tuhan.
● Kemanusiaan berarti tidak menzalimi sesama, apa pun alasannya.
● Persatuan berarti perbedaan adalah kekayaan, bukan alasan perang.
● Kerakyatan berarti suara rakyat didengar, bukan dibungkam.
● Keadilan berarti yang lemah dilindungi, yang kuat tidak semena-mena.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, lanjut Herry, seharusnya menjadi pengikat, bukan pemisah bangsa. Kita boleh berbeda pandangan tentang peristiwa sejarah masa lalu, namun ada satu hal yang tak boleh berbeda: tekad agar kejadian kelam tidak terulang kembali.
“Mengenang korban tanpa menabur kebencian, itulah cara paling mulia menghormati mereka,” ujarnya.
Hari ini menjadi pengingat bahwa perpecahan membawa kehancuran, sedangkan persatuan adalah harga yang mahal. Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri kokoh di atas pengorbanan mereka yang meyakini kebersamaan lebih tinggi daripada kepentingan kelompok atau golongan.
Pancasila senantiasa diuji setiap kali kita memilih diam melihat ketidakadilan. Ia diuji setiap kali kita membiarkan kebencian mewarnai pandangan terhadap sesama warga negeri. Itulah ujian sesungguhnya: apakah kita masih memegang teguh, atau perlahan membiarkan negeri ini terpecah?
Di akhir pernyataannya, Herry mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan momen ini sebagai titik balik.
“Mari kita jadikan Hari Kesaktian Pancasila sebagai titik balik. Saling mengingatkan, saling mengoreksi, namun tetap bergandengan tangan. Pancasila sakti karena rakyatnya bersatu. Selama kita menjaga persatuan, tak ada yang bisa memecah belah negeri ini,” ajaknya.
Herry menegaskan, Pancasila bukan milik satu golongan, satu kelompok, atau satu pandangan politik tertentu. Ia adalah milik seluruh rakyat Indonesia — siapa pun yang menginginkan negeri ini tetap utuh, damai, dan adil. (Aro Ndraha/red).







