News  

Sukseskan penurunan stunting, Charles Honoris bersama Kemendukbangga gencar sosialisasikan Program Bangga Kencana di Jakarta

Teks foto : Sesi Foto Bersama

Jakarta-, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga / BKKBN bersama Komisi IX DPR RI gencar sosialisasi program Bangga Kencana.

Kali ini, acara berlangsung di Kelurahan Penjagalan, Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara, Jum’at Sore (18/9/2026).

Selain dihadiri ratusan peserta sosialisasi, juga menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Charles Honoris Wakil Ketua komisi IX DPR RI.
Anita Latifah, S.Si, MH Plt. Direktur Bina Peran Serta Masyarakat, Kemendukbangga BKKBN dan Andika Akbar – Sudin DPPAPP DKI Jakarta Utara.

Acara diawali dengan menyanyikan Indonesia Raya dan Mars KB. Selanjutnya, masing masing narasumber menyampaikan materi tentang strategi membangun keluarga berkualitas dan menekan angka stunting.

Pihak tuan rumah mengucapkan terimakasih atas kehadiran bapak Charles Honoris sebagai wakil ketua komisi IX yang bersedia hadir dan juga Ibu Anita dari Kemendukbangga/BKKBN hadir dalam lingkungan kami yang kondisinya sedang banyak perbaikan. Keterkaitan dengan stunting di Kelurahan Penjaringan. Serta respon baik sudah mendapatkan perhatian dari komisi IX DPR RI. Semoga materi materi yg diberikan oleh para narasumber dapat bermanfaat bagi masyarakat setempat.

Charles Honoris, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, menjelaskan materi mengenai Program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana) bekerja sama dengan Kemendukbangga (Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga / BKKBN). Charles menekankan bahwa program pembangunan keluarga dirancang agar setiap keluarga memiliki perencanaan yang matang.

“Sebagai mitra kerja Kemendukbangga, kami menjadikan pencegahan stunting sebagai materi krusial. Kami mendorong optimalisasi 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) serta mendesak Kemendukbangga/BKKBN menjadi motor penggerak dan pemimpin koordinasi antar-lembaga guna mempercepat penurunan angka stunting di Indonesia,” jelasnya.

Anita Latifah memberikan wawasam tentang pembangunan keluarga dengan memberikam gizi yg cukup dan mental yang baik sehingga dapat meghasilkan generasi yang hebat juga bagaimana menurunkan stunting. Anak yang stunting akan rentang terhadap penyakit ketika dewasa nanti. Ia menjelaskan tentang kesehatan anak gizi dan sanitasi lingkungan yg bersih. Tapi, juga lingkungan yang mendukung juga. Bagaimana seorang ayah dapat memberikan makna di kehidupan anak, juga bagaimana lansia mendapat manfaat dimasa tuanya.

“Pembangunan keluarga saat ini sangat penting dengan sapaan sederhana dalam keluarga sangat berarti dalam kehidupan keluarga. Adanya KDRT, adanya stunting, adanya lansia dalam keluarga, semuanya keluarga. Jadi, mengapa BKKBN yang sekarang sudah bertransformasi menjadi Kemendukbangga. Ada juga tamsya yaitu taman asuh sayang keluarga, dan Gati gerakan ayah teladan indonesia. Diperkirakan 25,9% merasakan tidak hadirnya ayah dalam keluarga, ini alasan mengapa hadirnya ayah dalam.keluarga akan sangat berdampak. Akibatnya, anak akan mudah sedih, sebagai contoh gerakan dengan mengantar anak dan mengambil rapot oleh ayah. Harapan kami, sepulang dari kegiatan ini dapat adanya perubahan bagi bapak serta ibu dirumah. MBG 3B juga salah satu program, kami juga ada Sidaya Lansia Berdaya. Sudah saatnya melakukan perubahan pola pengasuhan dalam keluarga,” urainya.

Sementara itu, Andika Akbar sebagai Sudin DPPAPP DKI Jakarta Utara menyampaikan bahwa, kasus stunting masih cukup tinggi sehingga diperlukan upaya pencegahan sejak sebelum kehamilan atau pernikahan. Pencegahan dapat dilakukan melalui pemenuhan gizi dan kesehatan remaja, khususnya remaja putri dengan mengonsumsi tablet tambah darah secara rutin. Selain itu, perlu mengatur usia pernikahan, yaitu 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki, serta menghindari kebiasaan merokok yang dapat berdampak terhadap kesehatan keluarga.

Pada masa kehamilan, ibu perlu melakukan pemeriksaan kehamilan di fasilitas pelayanan kesehatan minimal 6 kali selama masa kehamilan serta menjaga kecukupan gizi untuk mendukung kesehatan ibu dan pertumbuhan janin. Setelah bayi lahir, pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan perlu dilakukan dan dilanjutkan hingga anak berusia 2 tahun dengan tetap memperhatikan pemenuhan gizi dan kesehatan anak.

“Selain itu, keluarga juga perlu mengikuti program KB untuk mengatur jarak kehamilan. Jarak kehamilan perlu diperhatikan agar tidak terjadi kehamilan kembali sebelum anak berusia 2 tahun. Sehingga, ibu dan anak memiliki waktu yang cukup untuk mendapatkan perawatan, pemenuhan gizi, serta tumbuh dan berkembang secara optimal,” terangnya

Acara juga diisi dengan dialog interaktif dan pembagian doorprize. (rh).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *