News  

Percepat Penurunan Stunting, Kemendukbangga Gencar Sosialisasi Program Bangga Kencana Di Surabaya

Teks foto : sesi foto bersama

Surabaya ~ Kementerian Kependudukan dan
Pembangunan Keluarga /BKKBN bersama mitra kerja gencar sosialisasi program Bangga Kencana. Kali ini, acara berlangsung di Kelurahan Karang Poh, Kec Tandes, Kota Surabaya, Prov. Jawa Timur Sabtu Siang (26/9/2026).

Upaya membangun keluarga sehat dan berkualitas terus diperkuat melalui Program Bangga Kencana. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi Program Bangga Kencana yang berlangsung di Kecamatan Tandes, Kota Surabaya, dengan menghadirkan sejumlah narasumber dari unsur legislatif, pemerintah pusat, Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, dan Pemerintah Kota Surabaya.

Kegiatan tersebut menghadirkan Anggota Komisi IX DPR RI, Dra. Lucy Kurniasari, sebagai narasumber utama, bersama Plt. Direktur Bina Peran Serta Masyarakat Kemendukbangga/ BKKBN Anita Latifah, S.Si., M.H., Sekretaris Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Ghana Renaldi Pasca Surya, S.H., M.Ak., serta Ketua Tim Kerja KB DP3APPKB Kota Surabaya, Nurul Habibah Umar.

Dihadapan ratusan peserta sosialisasi, Lucy
Kurniasari menyampaikan apresiasinya terhadap berbagai pihak yang berperan dalam pelaksanaan Program Bangga Kencana di Kota Surabaya. Menurutnya, keberhasilan menekan angka stunting di Surabaya hingga 1,6% tidak terlepas dari kolaborasi kader, tenaga kesehatan, pemerintah, serta masyarakat.

la juga menyoroti inovasi Pemerintah
Kota Surabaya melalui program R1NI (1
RW 1 Nakes) yang mendekatkan akses pelayanan kesehatan hingga tingkat warga. Kehadiran tenaga kesehatan di lingkungan masyarakat dinilai turut mendukung upaya pencegahan dan penanganan masalah kesehatan, termasuk stunting. “Upaya bersama ini menunjukkan komitmen kuat Surabaya dalam membangun keluarga yang sehat, tangguh, dan berdaya saing,” ujar Lucy dalam kegiatan tersebut.

Selanjutnya, Anita Latifah menjelaskan, sinergi dan kolaborasi dari hulu ke hilir akan dapat menjadi salah satu jalan untuk menyelesaikan masalah dalam penurunan stunting.

Penyuluh KB dan Tim Pendamping Keluarga sebagai garda depan menjadi itik sentral pelayanan edukasi dan pendampingan keluarga berisiko stunting diharapkan memiliki kapasitas dan kompetensi yang memadai dalam memahami stunting secara komprehensif, terutama dalam edukasi dan pendampingan catin, ibu hamil, ibu pasca persalinan, dan baduta serta balita.

“Untuk itu, perlunya penguatan kesadaran yang tinggi dari masyarakat, secara dini mencegah stunting. Diantaranya, menerapkan pola hidup bersih dan sehat, serta disiplin memperhatikan pertumbuhan anak, dengan memberikan azupan gizi dan makanan sehat,” jelasnya.

Sedangkan, Ghana Renaldi Pasca Surya, menerangkan bahwa perubahan status dari ‘Badan’ menjadi ‘Kementerian’ memperluas mandat utama. Fokus institusi kini bertransformasi: bukan lagi sekadar membatasi jumlah penduduk, melainkan intervensi kualitas SDM secara.

Percepatan penurunan stunting, dapat dimulai dari pembangunan kualitas keluarga. Sebab, Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat. Pembangunan manusia tidak dapat dilakukan secara instan. Keluarga adalah investasi terencana yang harus dibangun sejak dini dari hulu.

“Ada 3 pikar lnvestasi Pembangunan Keluarga, yaitu Awal Kehidupan dengan Intervensi 1.000 HPK Kecukupan gizi dan stimulasi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan menentukan kecerdasan anak. Edukasi ini krusial untuk mencegah stunting dan mengamankan potensi SDM masa depan.

Pembentukan Sekolah Pendidikan Karakter.
Dunia kerja modern menuntut daya tahan, integritas, dan kemampuan kolaborasi. Soft skills ini tidak diajarkan instan di sekolah formal, melainkan dibentuk melalui pola asuh di rumah.

Kestabilan Perencana Ekonomi Keluarga, Perencanaan keuangan menciptakan stabilitas ekonomi keluarga, mengakumulasi tabungan sebagai modal domestik negara, dan menjadi kunci pengentasan dari jerat middle income-trap.,” terangnya.

Menurut Ghana Renaldi, untuk membangun generasi yang tangguh, Kemendukbangga/ BKKBN hadir di setiap tahap kehidupan manusia, mulai dari balita sampai lansia. Setiap tahap punya tantangannya sendiri, dan kami punya programnya masing-masing.

“Stunting harus dtangani bersama-sama. Karena, menjadi masalah mendesak untuk semua. Stunting adalah masalah besar yang harus segera diatasi. Presiden sendiri turun tangan langsung untuk menaiganinya. Tidak bisa diatasi sendirian Kemendukbangga/ BKKBN menjadi salah satu penggerak, tapi tidak bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Perlu bantuan dari banyak pihak. Butuh gotong royong bersama Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, sampai perorangan bisa ikut membantu dengan menjadi Orang Tua Asuh,” tambahnya.

Sementara itu, Nurul Habiban Umar menerangkan peran ayah dalam mendukung KB pasca persalinan. Membangun Kesehatan Reproduksi melalui program Keluarga Berencana. Kesehatan reproduksi dalam program Keluarga Berencana (KB) adalah upaya komprehensif untuk memastikan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang utuh terkait sistem dan fungsi reproduksi. Program ini tidak sekadar mengatur jarak atau jumlah kelahiran, tetapi juga melindungi kualitas generasi penerus.

“KB pasca persalinan merupakan upaya pencegahan kehamilan dengan menggunakan kontrasepsi segera setelah melahirkan sampai dengan 42 hari /6 minggu setelah melahirkan dengan tujuan memberikan waktu pemulihan optimal bagi organ reproduksi, menekan risiko komplikasi pada kehamilan berikutnya, serta mencegah kehamilan tidak diinginkan (KTD) dan 4 terlalu.

Pentingnya KB pasca persalinan, untuk memberi waktu tubuh ibu untuk pulih sepenuhnya atau jarak kehamilan sehat 2-3 tahun, mengurangi risiko komplikasi pada kehamilan berikutnya atau eperti pendarahan, prematur, BBLR. Ibu memiliki lebih banyak waktu dan energi untuk mengasuh bayi. Serta,. meningkatkan kualitas hidup dan ekonomi keluarga,” terangnya.

Kegiatan tersebut juga diisi dengan pembagian undian doorprize. (Rh).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *