KH. Asep Syaifudin Chalim Gelar Sholat Ghaib dan Doa Bersama untuk Syuhada Banjir Sumatera

Keterangan Foto : Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Prof. Dr. KH. Asep Syaifudin Chalim MA

Pacet, Mojokerto – Dalam suasana yang khidmat dan penuh kesedihan, Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Prof. Dr. KH. Asep Syaifudin Chalim MA, secara langsung memimpin pelaksanaan Sholat Ghaib untuk para syuhada korban banjir yang melanda beberapa provinsi di Pulau Sumatera, yakni Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, serta Sumatera Selatan.

Ibadah yang diselenggarakan usai pelaksanaan Salat Jumat pada hari Jumat (10/12/2025) di Masjid Pondok Pesantren Amanatul Ummah diikuti oleh ribuan santri, santriwati, serta masyarakat sekitar yang datang dari berbagai pelosok daerah untuk bersama-sama mendoakan para korban yang telah meninggal dunia akibat musibah tersebut.

Sholat Ghoib Unyuk Syuhada, Berdasarkan Ajaran Hadis Nabi

KH. Asep Syaifudin Chalim menyampaikan bahwa Sholat Ghaib kali ini secara khusus ditujukan untuk saudara-saudara kita yang telah meninggal dalam bencana banjir yang melanda wilayah Sumatera. “Sholat ghoib ini kita tujukan pada saudara kita di Sumatera Selatan, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ya, kita berdoa untuk mereka-mereka yang meninggal dalam musibah yang sangat menyakitkan hati ini,” ujarnya dengan nada penuh kesedihan.

Menguatkan pemahaman tentang status para korban, beliau mengutip berbagai hadis Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan bahwa mereka yang meninggal dalam kondisi tertentu termasuk dalam kategori syuhada.

“Berdasarkan berbagai hadis nabi, mereka mati syahid. Barang siapa yang meninggal dalam kejatuhan reruntuhan, itu mati syahid – syahidul akhirah. Begitu juga barang siapa yang meninggal dalam tenggelam, dia mati syahid – syahidul akhirah,” jelas beliau.

Beliau juga menambahkan bahwa keberadaan orang yang gugur sebagai syahid diharapkan dapat memberikan syafaat bagi keluarga yang ditinggalkannya. “Dan orang yang mati syahid itu, semoga memberi syafaat kepada keluarganya. Oleh karena itu, kita selaku saudara seiman harus terus mendoakan keluarga yang ditinggalkan agar diberikan kesabaran yang luar biasa, serta kemampuan untuk memulihkan keadaan mereka seperti semula sebelum musibah datang,” paparnya.

Seruan Bantian Pemerintah dan Pemulihan Fasilitas.

KH. Asep juga mengarahkan doa dan harapannya kepada pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, agar segera memberikan bantuan dan pertolongan yang dibutuhkan oleh korban. “Kita berharap agar pemerintah juga bisa memberikan bantuan dan pertolongannya secara maksimal untuk memulihkan keberadaan yang telah terganggu akibat banjir. Mulai dari pemulihan pasokan listrik yang saat ini banyak yang padam, hingga menjadikan wilayah tersebut kembali terang dan berfungsi dengan baik seperti sebelum musibah,” ujarnya.

Tidak hanya itu, beliau juga menekankan pentingnya mempercepat proses pembangunan kembali rumah-rumah yang telah hancur dan tak layak huni akibat banjir. “Bagi mereka yang kehilangan rumah akibat banjir, kita berharap rumah mereka bisa segera dibangunkan kembali, sehingga mereka dapat kembali memiliki tempat tinggal yang layak dan bisa melanjutkan kehidupan sehari-hari dengan lebih tenang,” tambahnya.

Musibah Sebagai Akibat Ulah Manusia, Seruan Hentikan Tambang Ilegal.

Dalam bagian pidatonya yang penuh makna, KH. Asep mengingatkan bahwa meskipun musibah memang merupakan ujian dari Allah SWT, namun tidak dapat dipungkiri bahwa banyak faktor yang berasal dari ulah manusia yang memperparah atau bahkan menjadi penyebab terjadinya bencana.

“Inilah eksesnya daripada musibah itu, tetapi perlu disadari bahwa musibah itu terjadi karena ulah-ulah orang. Andaikan mereka mengikuti aturan Allah yang telah jelas dalam ajaran agama – tufsidu fil ardi yang artinya ‘jangan kamu lakukan kerusakan di permukaan bumi’ – maka kemungkinan besar musibah tidak akan terjadi dengan skala yang begitu besar,” jelas beliau dengan tegas.

Beliau menyatakan bahwa tindakan kerusakan yang dilakukan oleh sebagian orang terkadang hanya untuk mengejar keuntungan pribadi atau menjadi perhatian publik, namun dampaknya sangat luas dan merugikan banyak pihak. Oleh karena itu, beliau mengajak pemerintah untuk mengambil pelajaran yang mendalam dari musibah banjir di Sumatera ini.

“Kemudian pemerintah juga harus mengambil ektibar (pelajaran) dari musibah ini, tidak hanya untuk wilayah yang terkena dampak, tetapi juga untuk di tempat-tempat yang lain di seluruh negeri,” ujarnya.

Salah satu poin penting yang disampaikan oleh KH. Asep adalah terkait dengan masalah tambang ilegal yang telah menjadi sorotan publik sebagai salah satu penyebab utama kerusakan lingkungan dan terjadinya bencana alam. “Kita harus menghentikan semua tambang-tambang ilegal yang ada di berbagai daerah. Tambang ilegal ini sangat berbahaya karena tidak pernah dilakukan proses reklamasi yang benar.

Ya, karena tidak ada reklamasi, maka lahan yang digali menjadi tidak stabil dan berpotensi menyebabkan longsor atau perubahan aliran sungai yang akhirnya berujung pada banjir seperti yang kita saksikan saat ini,” jelas beliau mengakhiri pidatonya.

Setelah menyampaikan pidato, KH. Asep langsung memimpin Sholat Ghaib bersama jamaah yang hadir, dengan doa yang penuh harap agar para syuhada diterima sebagai orang shaleh oleh Allah SWT, keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran, dan seluruh kondisi di daerah yang terkena banjir dapat segera pulih seperti semula. (ri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *