BANDUNG ~ Sebuah mesin yang kita kenal saat ini terdiri dari berbagi komponen permesinan yang berdiri sendiri, kemudian dirangkai sesuai dengan fungsinya menjadi sebuah sistem yang disebut mesin. Proses pembuatan permesinan yang banyak dikenal selama ini adalah dengan teknik permesinan dan teknik pengecoran logam (foundry engineering). Meskipun dengan teknik pengecoran logam pun akan ada proses finishing dengan permesinan juga. Tapi ada satu teknik lain yang mungkin agak jarang dikenal, yaitu teknik Metalurgi Serbuk (Powder Metallurgy) “, ungkap Pemerhati Teknologi Dede Farhan Aulawi di Bandung, Jum’at (2/12).

Hal tersebut ia sampaikan dalam diskusi kecil dengan rekan – rekan pemerhati teknologi lainnya di sebuah cafe yang cantik di kota Bandung. Dede sendiri sebelumnya pernah mengenyam pendidikan teknik pengecoran logam (foundry engineering) di Politeknik Manufaktur Bandung (dulu dikenal dengan nama Politeknik Mekanik Swiss ITB). Ia merupakan lulusan angkatan kedua dari jurusan teknik pengecoran logam dari kampus ternama di kota Bandung tersebut. Dengan latar belakang pendidikan ini dan juga pengalaman bekerja di industri pengecoran logam IPP PT. Pupuk Kaltim, tentu yang bersangkutan sangat kompeten menjelaskan perkembangan teknologi tersebut.

Menurutnya teknologi metalurgi serbuk (powder metallurgy) merupakan teknologi pengerjaan logam di mana part atau komponen diproduksi dari serbuk logam. Proses pengerjaannya yakni serbuk logam ditekan menjadi bentuk yang diinginkan (pressing). Selanjutnya serbuk yang tertekan tersebut dipanaskan supaya saling mengikat dan menjadi rigid (sintering). Metalurgi serbuk bisa menghasilkan produk yang hampir tidak berpori (porositas material) yang memiliki sifat hampir setara dengan bahan yang sepenuhnya rapat. Proses difusi selama perlakuan panas merupakan inti pengembangan sifat-sifat ini. Metode metalurgi serbuk ini sangat cocok untuk logam yang memiliki daktilitas rendah, karena hanya perlu deformasi plastis kecil dari partikel bubuk. Ujarnya.

Kemudian Dede juga menjelaskan bahwa jika dibandingkan dengan proses lain, tingkat pemanfaatan material metalurgi serbuk adalah yang tertinggi, mencapai 95%. Kepadatan produk dapat dikontrol, seperti bahan berpori, bahan berdensitas tinggi, dan lain – lain. Begitupun dengan struktur mikro-nya relatif seragam. Secara umum tahapan proses dalam teknik metalurgi serbuk ini, meliputi pembuatan serbuk, mixing, compaction, sintering, dan finishing. Ada beberapa cara dalam pembuatan serbuk antara lain, decomposition, electrolytic deposition, atomization of liquid metals, dan mechanical processing of solid materils.

Selanjutnya Dede juga menerangkan bahwa setiap pilihan proses pembuatan suatu komponen, tentu memiliki keuntungan dan kerugian masing – masing. Adapun kelebihan dari teknik Metalurgi Serbuk adalah mampu digunakan untuk membuat komponen berukuran kecil atau sangat kecil, mampu memproduksi komponen jadi (net shape) atau komponen hampir jadi (near net shape) secara massal, mampu mengurangi bahkan menghilangkan proses lanjutan (karena proses metalurgi serbuk langsung menghasilkan komponen jadi atau komponen hampir jadi), tidak banyak membuang material, karena sekitar 97% material serbuk dapat dikonversi menjadi produk jadi (sehingga hanya sekitar 3% yang terbuang). Bila dibandingkan dengan proses pengecoran, metalurgi serbuk tidak membutuhkan sprue, runner, dan riser yang sebenarnya menjadi limbah untuk dilebur kembali. Dan ada beberapa keuntungan lainnya.

Sementara itu jika berbicara tentang kerugian atau kekurangan dari teknik metalurgi serbuk ini, adalah investasi peralatan metalurgi serbuk relatif mahal, serbuk logam mahal, memerlukan kelonggaran antara komponen (benda kerja) dengan cetakan untuk memudahkan saat pengeluaran benda kerja dari cetakannya, variasi berat jenis material pada sebuah komponen dapat menimbulkan masalah, khususnya pada komponen dengan geometri yang kompleks, dan yang lainnya.

“ Jadi setiap pilihan proses ada plus minusnya, sehingga perlu benar – benar diperhatikan agar memperoleh keuntungan yang maksimal. Baik dari keuntungan kualitas produk, maupun dari keuntungan ekonomisnya. Bagi orang teknik hal ini menjadi sangat penting sekali, karena suatu produk yang dibuat juga harus mampu diterima atau diserap oleh pasar. Disamping itu juga harus memperhatikan masalah resiko (risk management), termasuk resiko terkait dengan keselamatan kerja (safety) “, pungkas Dede menutup diskusi. (redaksi*)

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *