MOJOKERTO – Ketua LP3-NKRI Kabupaten Mojokerto Sumidi S.Sos. beserta tim melakukan verifikasi langsung ke pasar untuk membandingkan harga seragam sekolah yang dijual pihak sekolah dengan harga wajar di pasaran. Hasilnya sangat mencolok: harga bahan kain seragam tingkat SMP di Toko Kain Flores Mojokerto hanya Rp293.500, jauh lebih murah dibandingkan harga paket seragam yang dipatok sekolah hingga mencapai Rp956.000.
“Hasil belanja langsung kami buktikan sendiri, harga kain seragam SMP di pasaran tidak sampai Rp300 ribu. Ini membuktikan harga yang dipatok sekolah sangat melambung tinggi, bahkan mencapai tiga kali lipat lebih mahal,” ungkap Sumidi, Jumat (17/7/2026).
Ia menegaskan praktik ini sangat memberatkan orang tua murid, terlebih saat awal tahun ajaran baru. Kalimat “Walimurid bukan ATM sekolah” bukan sekadar seruan, melainkan gambaran nyata kesulitan yang dirasakan warga.
Sumidi kembali mendesak Bupati Mojokerto Dr. H. Muhammad Albarraa, Lc., M.Hum. untuk segera mengambil sikap tegas dan menindaklanjuti kasus ini. Diam saja dinilai sama dengan membiarkan rakyat terus tertekan.
“Jangan biarkan seragam sekolah menjadi ladang bisnis yang merugikan. Aturan negara jelas melarang sekolah menjual atau mewajibkan pembelian seragam. Seragam harus terjangkau, bukan menjadi beban berat bagi masyarakat,” tegasnya.
LP3-NKRI mengingatkan agar Bupati segera memerintahkan inspeksi, memeriksa pelanggaran, dan memberikan sanksi tegas bagi pihak yang menyalahgunakan wewenang, demi menjamin hak pendidikan anak-anak Mojokerto tanpa beban biaya yang tidak wajar.








