News  

Ibu Ima Rosita Mengeluh Karena Tidak Bisa Perbaiki Rumah Terpaksa Atap Rumah Menggunakan Terpal Pelastik

Sukabumi – Atap Rumah terpaksa di ambrukan, jika menunggu bantuan pemerintah, khawatir terjadi memakan Korban jiwa, di harapkan segera Pemda kabupaten Sukabumi dapat menjawab keluhan warganya.

Pasalnya menunggu perhatian pemerintah ridak kunjung kabar baik, apalagi pemdes juga dari pemerintahan Kecamatan Cikidang belum pernah meninjau, begitu pula pemda Sukabumi dugaan tutup mata dan telinga. Pada Minggu (26/04/2026).

Dikutip” menurut KBBI Detail Program Rutilahu Kabupaten Sukabumi 2026

Pemda Kabupaten Sukabumi pada 2026 melanjutkan program penanganan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) melalui Dinas Perkim dengan pola stimulan swadaya, guna mendukung target penurunan kemiskinan ekstrem dan peningkatan kualitas hunian sehat.

Program ini difokuskan pada perbaikan fisik rumah agar memenuhi kriteria layak, aman, dan nyaman.

Namun program itu belum bisa dirasakan manfaatnya oleh satu keluarga pak Sandi juga ibu Mimin & Ibu Ima Rosita di kampung Salagedang RT 03 RW 05 Desa Cicareuh Kecamatan Cikidang Kabupaten Sukabumi provinsi jawa Barat.

Padahal pemilik rumah berharap besar kepada pemerintah Kabupaten Sukabumi atau bupati sukabumi Asep japar melalaui dinas Perkim menjawab harapan tersebut dan segera melakukan perbaikan dan atau peninjauan langsung kelokasi.

Sebab rumah yang dihuninya bertahun tahun kondisi memprihatinkan tidak lepas dari rasa dihantui kecemasan, kekahawatiran terjadi ambruk, bagian atap sudah lapuk akibat dimakan usia begitu pula di bagian dingding dan lantai.

Satu tahun sebelumnya meminta bantuan untuk menyampaikan langsung permohonan perbaikan rumah melalui program rutilahu, baik melalui pemerintah Desa setempat selaku kepanjangan tangan langsung kepada pemerintah daerah yaitu dinas perkim kabupaten sukabumi.

Namun disayangkan sampai dengan hari ini belum ada jawaban yang pasti, terpaksa harus membongkar rumah terlebih dahulu dari pada dibiarkan begitu saja meskipun saat ini kami tidak memgang biaya perbaikan dari penghasilan menabung,” ungkapnya Mimin kepada wartan.

Lebih lanjut mimin mengatakan ,” paling khawatir dirasakan oleh kami ambruk atap secara tiba tiba, terjadi malam hari, kami dan anak anak sedang tidur lelap dampaknya memakan korban jiwa, sebab atap rumah paling berat bebannya karena masih mengunakan genting rumah dari tanah,” bebernya.

Bukan hanya itu kami sering kurang tidur, ya tadi alasannya khawatir ambruk saja,” ,” cetusnya Ibu Mimin.

Sambut yang lainnya mengungkapkan,” dari pada di hantui kecemasan terpaksa kami bongkar bagian atap dulu, kalau di bagian dingding kami kira perlunya waktu pengumpulan biaya.

Meski kami berniat akan renovasi tentunya harus menabung terlebih dahulu, dan itupun belum jelas, sementara penghasilan kami kesehariannya hanya cukup menyambung hidup.

Tetapi kami harus bisa dengan sedikit demi sedikit akan mengumpulkan biaya perbaikan dulu, fokus sekarang untuk perbaikan kebagian atap saja, seperti kemarin kurang material bagian atap terpaksa di tutup sementara menggunakan terpal plastik,” ucapnya Pak Sandi,

Diketahui penghasilan kelurga tersebut garis besar perbulan juga harian kurang cukup untuk biaya hidup memenuhi keluarga, meskipun anak Mimin yaitu Ima Rosita kerja di pabrik tetapi penghasilannya tidak tetap, begitu juga pak Sandi sendiri mengaku pekerja serabutan, tidak tetap terkadang ada kerjaan terkadang harus nganggur dirumah begitu lama.

Jadi pada kesimpulannya hanya cukup untuk biaya makan saja, boro boro bisa menabung untuk biaya perbaikan rumah,” tutup.

(Reporter : Muhtar Bahtiar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *