News  

Garuda Di Bumi Asing: 35 Tahun Mengabdi Untuk Damai

Jakarta – Ada jalan pengabdian yang tidak selalu terdengar letupan senjatanya, namun dampaknya menggema hingga ke ruang sidang PBB. Jalan itu ditempuh oleh seorang Perwira Menengah Polri, seorang Veteran Perdamaian, yang menutup 35 tahun kariernya dengan kepala tegak dan dada penuh lencana misi dunia.

*Dari Bhayangkara Muda Hingga Penjaga Damai Dunia*

Ia memulai dari pangkat Bintara, di sebuah Kesatuan kewilayahan. Patroli kampung, mengurai tawuran, menengahi sengketa tanah semua dilakoni tanpa mengeluh. “Polisi itu pelayan,” begitu prinsip yang ia pegang. Perlahan ia menapaki tangga: Bintara, Perwira Pertama, hingga di ujung pengabdian menyandang pangkat Komisaris Besar Polisi.

Yang membuat kisahnya berbeda adalah panggilan tugas lintas benua. Di era 1990-an hingga 2000-an, saat dunia meminta Indonesia mengirim putra terbaiknya menjaga perdamaian, ia termasuk yang maju dan terpilih.

*Di Bawah Bendera PBB*

1. *Kamboja – UNTAC 1992-1993*
Di tengah sisa konflik Khmer Merah, ia bertugas memastikan pemilu pertama berlangsung aman. Berbulan-bulan tinggal di kamp beratap terpal, mengawal kotak suara melewati ladang yang masih ditanami ranjau. “Kami bukan tentara perang, kami polisi perdamaian. Senjata kami adalah kepercayaan rakyat,” kenangnya.

2. *Bekas Yugoslavia – Kroasia, Bosnia-Herzegovina, Slovenia Timur 1996-1999*

Ia menyaksikan sendiri luka perang etnis. Tugasnya: melatih polisi lokal yang terpecah karena konflik, membangun kembali kantor polisi yang dibakar, dan mendampingi korban kekerasan seksual melapor. Musim dingin Balkan minus 15 derajat dilalui dengan sepatu dinas yang tembus air. Tapi yang lebih dingin adalah tatapan curiga warga yang trauma. Butuh berbulan-bulan hingga mereka percaya bahwa polisi PBB bisa melindungi, bukan menindas.

3. *Atase Kepolisian di Yordania & Timur Tengah*

Setelah dari medan konflik, ia dipercaya menjadi Atase Kepolisian RI di Yordania, dengan wilayah kerja mencakup sebagian Timur Tengah. Di sana ia menjadi jembatan: menangani WNI bermasalah, kerja sama kontra-terorisme, hingga pertukaran informasi intelijen. Kemampuan analisis hukum dan intelijennya terasah membaca geo-politik, memetakan ancaman, namun tetap humanis.

*Lencana Tanpa Suara*

Medali PBB, Satya Lencana Bhakti Buana, Shanti Dharma, Ops kepolisian, penghargaan dari UNHCR dan otoritas setempat berjejer di dinding rumahnya yang sederhana. Namun ia jarang memamerkannya. “Lencana sejati itu ketika mantan pengungsi di Bosnia mengirim pesan: ‘Terima kasih, kini anak saya jadi polisi karena melihat Anda dulu’.”

*Pensiun, Tapi Tidak Purna*

Kini di usia senja, ia masih aktif sebagai seorang Pengacara, pengamat hukum dan intelijen. Pelatih Pembina Pramuka, Pelatih Utama Pencak Silat Indonesia. Mengisi kuliah di beberapa Universitas dan lembaga kursus lainnya, menulis jurnal tentang peacekeeping dan community policing, hukum, budaya dan sebagainya. Ia juga bersama rekan2 nya mendirikan komunitas “Veteran Perdamaian untuk Negeri”, mengajak purnawirawan Polri-TNI berbagi pengalaman ke sekolah-sekolah.

Pesannya ke generasi muda: “Jangan hanya siap perang, tapi siap ciptakan damai.”

*3 Pelajaran dari Sang Veteran Perdamaian*

1. *Integritas adalah paspor*
Di negeri orang, yang membuatmu dihormati bukan pangkat, tapi kejujuran. Sekali kau main mata dengan pelanggaran, nama kontingen Indonesia ikut tercoreng.

2. *Pendidikan tanpa henti*

Dari Bintara hingga Pamen, ia tak pernah berhenti sekolah/ kursus: Hukum,Reserse, Intelijen, bahasa Inggris untuk misi, hukum humaniter internasional, hingga analisis intelijen. “Pangkat boleh berhenti, tapi belajar tidak.” hingga berhasil menyandang gelar 2 ( dua) Doktor dibidang Hukum dan Hubungan Internasional.

3. *Damai dimulai dari empati*

Senjata boleh ditinggal di gudang, tapi telinga harus selalu dibuka. Di Kroasia ia belajar: kadang warga tidak butuh solusi cepat, hanya butuh didengar tanpa dihakimi.

*Penutup: Merah Putih yang Dibawa Keliling Dunia*

Ia membuktikan bahwa pengabdian Polri tidak berhenti di batas kabupaten. Di kamp-kamp pengungsi Kamboja, di desa-desa Bosnia yang hancur, di meja diplomasi Yordania — di sana Merah Putih ikut menjaga dunia.

Tiga puluh lima tahun bukan waktu singkat. Tiga benua bukan perjalanan mudah. Namun ia jalani tanpa gembar-gembor. Karena bagi Veteran Perdamaian sejati, kebanggaan terbesar bukanlah bintang di pundak, melainkan saat dunia berkata: “Terima kasih, Indonesia.”
Dan itu, adalah warisan yang tak akan pensiun.

By : Dr.HMZ / Veteran Perdamaian LVRI.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *