Probolinggo, seputarindonesia.co.id — Dua dekade bukan waktu singkat bagi sebuah tradisi untuk bertahan. Namun, Lomba Musik Pengantar Sahur (MPS) Ke-20 di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong justru kian menguat, menjadi magnet budaya Ramadan yang menyatukan Probolinggo, Jombang, Sidoarjo, hingga Madura dalam satu irama patrol.
Start dari kawasan Pabrik Gula (PG) Pajarakan dan finis di halaman kompleks pesantren legendaris tersebut, ratusan peserta tampil bergantian membawa denting gamelan, tabuhan bambu, rebana, hingga kentongan tradisional. Sepanjang rute, ribuan warga memadati sisi jalan. Sorak dukungan bersahut-sahutan, menciptakan atmosfer Ramadan yang hangat dan penuh kebersamaan.
Bupati Probolinggo, Gus Haris, yang membuka langsung kegiatan itu, menyampaikan apresiasi atas konsistensi penyelenggaraan MPS yang telah memasuki tahun ke-20 dan menjadi bagian dari rangkaian haul keluarga besar pesantren.
“Selamat bulan Ramadan. Positif, luar biasa. Ini juga sekaligus rangkaian acara Haul Almarhumah Al Arifah Billah Nyai Hj. Himami Hafsawati. Jadi berangkat dari pesantren, budaya bersama, kembali lagi kepada masyarakat dengan kearifan lokal selama bulan Ramadan,” ujar Gus Haris.
Menurutnya, tradisi pengantar sahur bukan sekadar membangunkan warga untuk makan sahur. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang ekspresi budaya berbasis pesantren yang menguatkan identitas lokal masyarakat tapal kuda di tengah arus modernisasi.
Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Probolinggo dari Fraksi Partai Gerindra, Reno Handoyo, menegaskan bahwa MPS Ke-20 menjadi bukti komitmen kolektif dalam merawat tradisi agar tidak tergerus zaman.
“Alhamdulillah sekarang ini MPS yang ke-20. Jadi sudah 20 tahun MPS ini dilakukan di Genggong. Dengan menyambung silaturahmi, kita mengutamakan budaya jangan sampai punah,” katanya.
Ia menjelaskan, lomba terbagi dalam kategori umum dan pelajar. Penilaian difokuskan pada penggunaan alat musik tradisional tanpa sentuhan elektrik maupun mesin, sehingga orisinalitas tetap terjaga.
“Ada kategori umum dan pelajar. Kriteria yang diambil yaitu musik tradisional. Tidak ada yang pakai elektrik atau mesin. Ini murni musik tradisional, entah itu gamelan, bambu, dan alat-alat tradisional lainnya,” jelas Reno.
Pantauan di lokasi menunjukkan para peserta tampil dengan busana khas daerah. Ada yang membawa gamelan mini, kentongan bambu berukir, hingga rebana klasik yang ditabuh ritmis mengikuti irama patrol. Kreativitas dikemas tanpa meninggalkan pakem tradisi.
Seorang warga Pajarakan, Bogel, mengaku rutin menyaksikan MPS setiap Ramadan tiba.
“Kalau Ramadan rasanya kurang lengkap tanpa suara patrol. Ini sudah jadi tradisi turun-temurun,” tuturnya.
Selama 20 tahun penyelenggaraan, MPS di Genggong tak sekadar menjadi ajang kompetisi tahunan, tetapi juga ruang silaturahmi lintas generasi dan lintas daerah. Konsistensi mempertahankan alat musik tradisional menjadi pembeda yang mempertegas identitasnya di antara festival musik lainnya.
Memasuki usia dua dekade, MPS bukan hanya tentang lomba pengantar sahur. Ia telah menjelma menjadi simbol keberlanjutan tradisi, penguat harmoni sosial, sekaligus bukti bahwa budaya lokal mampu bertahan bahkan berkembang di tengah gelombang perubahan zaman. (Bashori)



