Surabaya, 17 Februari 2026 – Pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan tahun ini akan dimulai pada tanggal yang berbeda antara dua organisasi Islam terkemuka di Indonesia, yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Penetapan yang berbeda ini menjadi hal yang umum terjadi setiap tahun dan berdasarkan kaidah yang telah diatur dalam ajaran masing-masing organisasi.
Muhammadiyah telah resmi menetapkan bahwa umat yang mengikuti panduan organisasi tersebut akan memulai menjalankan ibadah puasa Ramadhan mulai hari Rabu (hari ini). Keputusan ini diambil berdasarkan hasil penghitungan astronomis (hisab) yang telah dilakukan oleh tim ahli yang khusus menangani masalah kalender dan penetapan awal bulan Islam. Metode hisab yang digunakan oleh Muhammadiyah mengacu pada perhitungan posisi bulan secara ilmiah, di mana awal bulan Ramadhan ditetapkan ketika matahari terbenam dan bulan sudah berada dalam posisi yang memenuhi syarat secara astronomis, bahkan jika belum terlihat secara langsung dengan mata telanjang di beberapa wilayah.
Sementara itu, Nahdlatul Ulama (NU) menetapkan awal puasa Ramadhan pada hari Kamis berikutnya. Penetapan ini berdasarkan metode rukyat, yaitu pengamatan langsung hilal (bulan sabit baru) dengan mata telanjang oleh panitia khusus yang telah ditunjuk. Selain itu, NU juga mengacu pada prinsip “rukyat pertama, hisab pembantu”, di mana jika hilal terlihat di suatu wilayah di Indonesia atau negara muslim lainnya yang diakui, maka awal bulan dapat ditetapkan untuk seluruh umat yang mengikuti panduan NU. Tahun ini, hasil pengamatan menunjukkan bahwa hilal tidak terlihat pada hari yang menjadi awal puasa menurut Muhammadiyah, sehingga NU menetapkan awal puasa pada hari berikutnya.
Perbedaan jadwal ini tidak mengurangi esensi dan keberkahan ibadah puasa itu sendiri. Kedua organisasi telah menyampaikan pesan untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan umat Islam, serta menghargai perbedaan pendapat yang berdasarkan dalil dan kaidah agama yang sah. Banyak tokoh agama dari kedua organisasi juga mengajak umat untuk fokus pada makna mendalam dari ibadah puasa, seperti meningkatkan ketakwaan, berbagi dengan sesama, dan memperbaiki diri secara terus-menerus.
Menyambut datangnya bulan
Ramadhan dengan berbagai persiapan, mulai dari menyiapkan makanan sahur dan berbuka, hingga mengikuti berbagai kegiatan keagamaan seperti pengajian dan kajian Al-Qur’an yang akan diselenggarakan oleh berbagai lembaga, termasuk yang berada di bawah naungan Muhammadiyah dan NU. Meskipun jadwal puasa berbeda, kegiatan sosial dan keagamaan yang bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat tetap dilakukan secara bersama-sama dalam semangat ukhuwah Islamiyah. (har)

