BPJS Kesehatan Dorong Integrasi Digital FKRTL Lewat Awarding Transformasi Digital dan Sosialisasi Apotek Online serta Rekam Medis Elektronik

Mojokerto ~ BPJS Kesehatan Kantor Cabang Mojokerto menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Bridging Farmasi, Bridging Rekam Medis Elektronik (RME) Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) wilayah Mojokerto dan Jombang di hotel Raden Wijaya pada Senin (9/2).

Kegiatan ini bertujuan memperkuat integrasi sistem informasi fasilitas kesehatan dengan platform BPJS Kesehatan dalam rangka mendukung percepatan transformasi digital layanan kesehatan.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Mojokerto, Titus Sri Hardianto, menegaskan bahwa peran dan dukungan langsung pimpinan rumah sakit menjadi faktor kunci keberhasilan implementasi integrasi sistem. Kegiatan sosialisasi ini diikuti oleh Direktur Rumah Sakit, Wakil Direktur Pelayanan Medis (Yanmed),

PIC Information Technology (IT) dari masing-masing rumah sakit yang bermitra dengan BPJS Kesehatan di wilayah Mojokerto dan Jombang.
“Pertemuan ini kami selenggarakan untuk mendorong sistem integrasi sistem digital di rumah sakit.

Bridging sistem bukan hanya soal koneksi aplikasi, tetapi bagaimana proses layanan menjadi lebih efisien, data lebih akurat, dan proses klaim menjadi lebih cepat.,” ujar Titus.

Titus juga menyampaikan bahwa BPJS Kesehatan Cabang Mojokerto siap memberikan pendampingan teknis, asistensi integrasi, serta koordinasi lanjutan dengan tim teknologi informasi rumah sakit, termasuk dukungan pemetaan data, penyesuaian standar pertukaran data, dan penguatan kapasitas SDM IT.

“Melalui kolaborasi yang kuat antara BPJS Kesehatan dan manajemen rumah sakit, diharapkan implementasi bridging Farmasi dan RME dapat dipercepat sehingga ekosistem layanan JKN semakin terintegrasi, transparan, efisien, dan berorientasi pada kualitas layanan peserta”

Pada paparannya, Kepala Bidang IT BPJS Kesehatan Kedeputian Wilayah VII, Rully Ramadhan menjelaskan untuk layanan kefarmasian, Bridging Apotek Online memungkinkan data resep dan obat dari SIMRS atau sistem apotek terkirim otomatis ke sistem BPJS Kesehatan, sehingga mengurangi entri manual dan meningkatkan ketepatan data klaim obat. Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan antrean online dan rujukan online melalui Mobile JKN guna menekan waktu tunggu dan meningkatkan kepastian layanan bagi peserta. Pada aspek rekam medis, implementasi Bridging RME dinilai menjadi fondasi penting dalam ekosistem Smart Claim. Data pelayanan klinis dapat dipertukarkan secara terstruktur, aman, dan dapat diverifikasi lebih cepat dalam proses klaim.

“Dengan bridging farmasi apotek online, proses entri resep dan obat tidak perlu dilakukan berulang. Sistem akan mengirim data secara otomatis sehingga lebih hemat waktu dan meminimalkan potensi kesalahan input. Melalui kegiatan ini, BPJS Kesehatan berharap FKRTL dapat mempercepat kesiapan infrastruktur, penguatan SDM IT, serta komitmen manajemen dalam mengimplementasikan integrasi digital secara menyeluruh, sehingga pelayanan kesehatan kepada peserta JKN semakin modern, transparan, dan terpercaya” ujarnya.

Salah satu perwakilan peserta dari FKRTL, dr. Krisna dari RS Moedjito, menyampaikan bahwa kegiatan sosialisasi ini memberikan pemahaman teknis yang lebih mudah, sistematis dan komunikatif terkait integrasi sistem digital layanan Kesehatan. Sehingga lebih memudahkan kami untuk lebih terbuka Ia menilai materi yang disampaikan tidak hanya menjelaskan konsep, tetapi juga alur implementasi yang dapat langsung ditindaklanjuti oleh fasilitas kesehatan, khususnya tim pelayanan dan teknologi informasi rumah sakit.
“Kegiatan sosialisasi hari ini sangat informatif dan relevan dengan kebutuhan kami di fasilitas kesehatan. Materi disampaikan secara jelas dan sistematis, sehingga membantu kami memahami alur integrasi sistem, baik bridging farmasi maupun rekam medis elektronik,” ujar dr. Krisna.

Ia juga menyoroti bahwa integrasi sistem bridging memiliki dampak langsung terhadap efisiensi operasional rumah sakit. Dengan sistem yang saling terhubung, proses entri data dapat menjadi lebih rapi. Ia juga berharap kedepannya ada pendampingan lanjutan agar implementasi teknis di masing-masing rumah sakit dapat berjalan optimal dan tidak menimbulkan kendala berarti pada tahap awal penerapan.

“Integrasi sistem bridging sangat penting bagi operasional rumah sakit karena membantu menyederhanakan alur kerja, mengurangi duplikasi input data, serta meningkatkan akurasi dan kecepatan proses administrasi maupun klaim, sehingga petugas rumah sakit bisa fokus untuk memberikan pelayanan. Harapan kami Kerja sama dengan BPJS Kesehatan dapat terus terjalin dengan baik melalui pendampingan dan komunikasi yang berkelanjutan. Dengan demikian, setiap kendala yang muncul dapat dibahas dan diselesaikan bersama. Tentunya, kolaborasi ini bertujuan untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang optimal dan berkualitas bagi masyarakat,” tutupnya. (har)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *