Probolinggo, Minggu (11/1/2026) — Pelatihan Ubudiyah Madrasah Diniyah Takmiliyah (MADITA) Zainul Hasan Genggong Pajarakan membekali santri dengan praktik ibadah aplikatif, mulai dari shalat, imam shalat berjamaah, shalat Duha terpimpin, hingga tajhizul mayit.
Kegiatan yang digelar pada Jumat (9/1/2026) tersebut dibimbing langsung oleh KH. Ahsan Qomaruzzaman, M.Pd., atau Nun Aka. Pelatihan berlangsung khidmat dan diikuti oleh kepala madrasah, jajaran pimpinan, dewan guru, staf karyawan, serta santri kelas III jenjang SMP, SMA Takhassus, dan kelas VI.
Sejak pagi, suasana kediaman Nun Aka di Genggong Timur tampak hidup dengan rangkaian ibadah terpimpin yang dilaksanakan secara sistematis. Aktivitas ini tidak hanya menghadirkan suasana religius, tetapi juga menegaskan peran madrasah sebagai ruang pembentukan karakter spiritual santri yang berakar pada tradisi dan kearifan lokal pesantren.
Pelatihan Ubudiyah dirancang untuk menjembatani pemahaman teori dan praktik ibadah. Santri tidak hanya menerima materi secara konseptual, tetapi juga dilibatkan langsung dalam simulasi dan praktik ibadah yang kerap dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Salah satu guru MADITA Zainul Hasan Genggong, Rosuli Zaid, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari ikhtiar madrasah dalam menyiapkan santri agar memiliki bekal keagamaan yang utuh.
“Pelatihan Ubudiyah Santri Madrasah ini bertujuan meningkatkan kualitas ibadah dan spiritualitas santri. Mereka dibekali pemahaman yang benar sekaligus praktik langsung, agar siap mengamalkan dan mengabdikan diri di tengah masyarakat,” ujar Rosuli Zaid.
Menurutnya, materi tajhizul mayit menjadi salah satu bagian penting karena menyentuh kebutuhan sosial-keagamaan yang nyata di lingkungan masyarakat. Dalam pelatihan tersebut, santri dibimbing mengenai tata cara merawat jenazah, mulai dari memandikan, mengkafani, menyalati, hingga menguburkan sesuai tuntunan syariat Islam.
Sementara itu, pelatihan shalat dan imam shalat berjamaah difokuskan pada pembenahan bacaan, ketepatan gerakan, kekhusyukan, serta adab seorang imam. Pembekalan ini diharapkan mampu menumbuhkan kepercayaan diri dan kesiapan moral santri ketika kelak diminta memimpin ibadah di lingkungan tempat tinggalnya.
Nilai-nilai ubudiyah yang ditanamkan melalui pelatihan ini, lanjut Rosuli, merupakan bagian dari kearifan lokal pesantren yang harus terus dijaga dan diwariskan. Dengan demikian, ilmu keagamaan yang diperoleh santri tidak terlepas dari adab, tanggung jawab, dan semangat pengabdian kepada umat.
Melalui Pelatihan Ubudiyah ini, MADITA Zainul Hasan Genggong Pajarakan menegaskan komitmennya dalam mencetak santri yang tidak hanya memiliki pemahaman keagamaan yang kuat, tetapi juga siap hadir sebagai pelayan umat yang berakhlak, berilmu, dan berdaya guna di tengah masyarakat. (Bashar)







