News  

WADAH INOVATIF KABUPATEN MOJOKERTO DALAM UPAYA MENDONGKRAK LAJU PERTUMBUHAN EKONOMI BERBASIS DIGITALISASI UMKM

Keterangan Foto : Andre Eka Prasetyo

Mojokerto, 30 November 2025 – Di tengah gembar-gembor transformasi digital, Kabupaten Mojokerto meluncurkan aplikasi TUMBAS sebagai wadah bagi UMKM lokal. Namun, apakah inovasi ini benar-benar mampu mendongkrak ekonomi daerah, atau justru hanya menjadi aplikasi yang kurang dimanfaatkan?

Aplikasi TUMBAS, yang lahir pada 28 Desember 2022, digadang-gadang sebagai solusi untuk memperluas pasar, mempermudah transaksi, dan meningkatkan efisiensi distribusi produk UMKM di 18 kecamatan. Berbasis Peraturan Bupati tentang Tata Kelola Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), TUMBAS diharapkan menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi lokal dan pengentasan kemiskinan.

Potensi Terpendam, Tantangan Menggunung

Sayangnya, potensi aplikasi TUMBAS belum sepenuhnya tergarap. Penelitian terbaru mengungkap sejumlah kendala serius, mulai dari rendahnya literasi digital pelaku UMKM, infrastruktur jaringan yang belum merata, strategi promosi yang kurang greget, hingga persaingan sengit dengan marketplace raksasa.

Hingga 27 November 2025, jumlah produk terjual baru mencapai 6.999. Fitur aplikasi yang minim, seperti riwayat transaksi, ulasan konsumen, dan informasi kualitas produk, juga menjadi penyebab rendahnya kepercayaan pengguna. Apakah ini pertanda TUMBAS akan bernasib sama seperti aplikasi daerah lainnya yang sepi peminat?

Saatnya Berbenah: Sosialisasi Gencar dan Aplikasi yang Lebih Menarik!

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa Pemerintah Kabupaten Mojokerto perlu melakukan sosialisasi yang lebih masif, dari tingkat kabupaten hingga pelosok desa. Selain itu, tampilan dan fitur aplikasi harus diperbarui agar lebih menarik dan meyakinkan. Tiru saja tampilan Shopee atau Lazada, siapa tahu bisa lebih laris!

“Dari segi aplikasi, hendaknya perlu dilakukan update untuk memberikan kesan kepercayaan kepada masyarakat. Tampilan menu produk bisa disesuaikan dengan aplikasi digital marketing yang sedang naik daun seperti Shopee, Lazada, Akulaku, dan sebagainya,” saran Andre Eka Prasetyo, peneliti dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

TUMBAS: Antara Harapan dan Kenyataan

Aplikasi TUMBAS memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak ekonomi digital di Kabupaten Mojokerto. Namun, tanpa strategi yang tepat dan kolaborasi yang berkelanjutan, inovasi ini hanya akan menjadi aplikasi yang terlupakan.

Pertanyaannya, apakah Pemerintah Kabupaten Mojokerto siap berbenah dan menjadikan TUMBAS benar-benar bermanfaat bagi UMKM lokal? Atau, TUMBAS hanya akan menjadi simbol ambisi digital yang gagal diwujudkan? Waktu akan menjawabnya.

Oleh: Andre Eka Prasetyo
Program Studi Magister Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *