Rendahnya Empati Sosial Dan Sensitivitas Terhadap Kesulitan Rakyat Oleh : Dede Farhan Aulawi

Jakartaseputar indonesia.co.id – Ada sebuah peristiwa yang beredar di media sosial dimana beberapa pejabat negara tampak begitu vulgar dalam mengeksploitasi kebahagiaan karena adanya ‘kenaikan gaji’. Peristiwa ini dinilai sangat miris karena di saat yang bersamaan banyak rakyat yang melakukan demonstrasi yang keberatan dengan kenaikan gaji para pejabat tersebut karena kondisi ekonomi masyarakat dianggap sedang banyak mengalami kesulitan. Di sisi lain, aneka pajak yang membebani rakyat terus dieksploitasi untuk menutup defisit anggaran. Kondisi ini seperti minyak ketemu api, yang langsung menyambar amarah rakyat. Kondisi inilah banyak dinilai oleh para Pemerhati Sosial sebagai gambaran rendahnya empati sosial para pejabat tersebut, dan sekaligus dianggap tidak memiliki kepekaan alias sensitivitas terhadap kesulitan yang sedang dihadapi rakyat, Kamis (28/8/2025).

Rendahnya empati sosial adalah ketidakmampuan atau keengganan seseorang/ sekelompok orang untuk merasakan dan memahami perasaan orang lain atau rakyat. Hal tersebut bisa disebabkan oleh faktor psikologis seperti gangguan kepribadian narsistik, lingkungan sosial, pola asuh, serta bias kognitif dan dehumanisasi. Kondisi ini dapat berdampak negatif pada hubungan sosial, memicu kekerasan, perundungan, dan dapat diatasi dengan konseling psikolog. Dengan demikian masalah tersebut menjadi isu yang sangat sensitif dalam dinamika sosial dan politik masyarakat.

Empati sosial hakikatnya merupakan kemampuan untuk merasakan dan memahami kondisi emosional atau kesulitan orang lain. Sensitivitas terhadap kesulitan rakyat adalah kepekaan terhadap penderitaan, kebutuhan, dan aspirasi masyarakat, terutama kelompok yang rentan atau terpinggirkan. Rendahnya Empati dan Sensitivitas Sosial dapat terlihat dari :
– Kebijakan publik yang tidak berpihak pada rakyat kecil
– Pernyataan pejabat yang terkesan meremehkan penderitaan rakyat
– Minimnya respon terhadap kemiskinan dan krisis sosial.
– Ketimpangan sosial yang makin lebar

Masalah minimnya empati sosial ini, disebabkan oleh :
– Elitisme, yaitu adanya jarak antara penguasa dan rakyat sehingga pejabat tidak memahami realitas di lapangan.
– Budaya individualistik, dimana kondisi masyarakat yang makin fokus pada kepentingan pribadi dan materi.
– Kurangnya pendidikan karakter, dimana sistem pendidikan tidak menekankan nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan
– Adanya keserakahan dari kelompok tertentu, yang mengeksploitasi sumber daya alam hanya untuk kelompoknya. Padahal sejatinya harus dipergunakan sebesar – besarnya kemakmuran rakyat

Jika tidak dikelola dengan baik, permasalahan – permasalahan di atas akan bermuara pada munculnya berbagai dampak negatifnya bagi masyarakat, seperti :
– Ketidakpercayaan terhadap pemerintah dan institusi publik.
– Meningkatnya ketegangan sosial karena kelompok masyarakat merasa diabaikan atau tidak dianggap penting.
– Radikalisasi dan konflik sosial, karena ketika rakyat kehilangan harapan pada sistem, maka mereka sangat rentan terprovokasi.
– Menurunnya solidaritas sosial di tingkat masyarakat.

Untuk itu tentu diperlukan langkah – langkah konkrit untuk mengatasi persoalan tersebut dengan cara :
– Meningkatkan pendidikan karakter dan empati sejak usia dini.
– Kebijakan berbasis kebutuhan rakyat, artinya Pemerintah sebaiknya melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan.
– Transparansi dan keterbukaan informasi agar rakyat tahu dan bisa turut mengawasi.
– Optimalisasi peran media dan tokoh masyarakat untuk mengangkat isu-isu kemanusiaan dan mendorong empati.
– Mewujudkan pemimpin yang hadir dan mau mendengar. Pemimpin harus turun ke bawah, tidak hanya hadir saat kampanye untuk mendapatkan dukungan suara semata

Rendahnya empati sosial dan sensitivitas terhadap kesulitan rakyat adalah sinyal bahaya bagi ketahanan sosial suatu bangsa. Empati bukan sekadar emosi pribadi, melainkan fondasi utama bagi kebijakan publik yang adil dan manusiawi. Untuk membangun masyarakat yang sehat, semua pihak – baik pemerintah, masyarakat, maupun individu harus berupaya memperkuat kepekaan sosial dan kepedulian terhadap sesama. Semoga tulisan singkat ini bisa bermanfaat untuk masa depan bangsa.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *