Daerah  

Demo Yang di Koordinator Gede Putu Arka Wijaya di Polres Buleleng Merendahkan Wartawan Indonesia.

Buleleng Bali – Terkait demo depan Polres Buleleng 13 /2/2023 yang mengatas namakan warga di koordinator oleh Gede Putu Arka Wijaya menjadikan wartawan sebagai subjek pada saat demo dengan bersuara

“wartawan mana wartawan”

dengan lantangnya, yang di muat di medsos akun tiktok Bali Jani ,Yang disinyalir ada berkepentingan politik. Wartawan bukan bawahan untuk diperintah.

“kami harus menurut pada yang bayar”

“Kami harus menyajikan berita untuk publik”

Ingat

….. Wartawan bukan budak kau…..

Wartawan kerja dimana kemana aja untuk menginformasikan ke publik…. Bukan untuk seperti kau…. Yang anggap wartawan babu, atau bawahanmu…….

“Di dalam orasi atau demo tidak dilarang menyuarakan aspirasi masyarakat sepanjang memenuhi ketentuan dari demo (santun, tertib, tidak arogan dan tidak merusak fasilitas umum dan lain – lain)”. Pungkas salah seorang wartawan yang enggan disebutkan namanya. Senin, (20/2/2023)

Demo yang di Buleleng sangat melukai hati wartawan Indonesia dimana wartawan dijadikan subjek pada saat orasi tersebut, kenapa harus ada bawa – bawa nama wartawan, seolah – olah wartawan adalah subjek untuk jongos berita artinya ada wartawan bayaran untuk membekap suatu kepentingan, wartawan adalah bersifat independen tanpa ada memihak.

Keterangan warga sudah di tanggapin dan di proses oleh Polres Buleleng secepatnya ,sehingga kasus ini terang benderang, dikompirmasi media via wa Kepada Kapolres Buleleng 17/2/2023 .

Wartawan punya kode etik serta UU no 40 Th 1999.Untuk mencari berita dll itu hak dan kewajiban seorang wartawan.
Jangan dibudayakan gravitasi dikalangan wartawan.

“Wartawan Indonesia harus lebih cerdas dan berintergritas lebih bisa selektif mengevaluasi pemberitaan”, pungkasnya.

(Wilnelma Elfira)

Netty herawati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *