Pebayuran Bekasi – seputar indonesia.co.id – Di sebuah ruas jalan kampung yang penuh lubang dan genangan, ada kegelisahan yang setiap hari dirasakan warga. Anak-anak sekolah harus memperlambat laju sepeda motornya. Para buruh dan petani menahan napas saat melintas. Ibu-ibu yang membawa dagangan harus ekstra hati-hati agar tidak tergelincir.
Jalan di Kampung Lembang RT 01/RW 02, Desa Karang Patri, Kecamatan Pebayuran, itu bukan sekadar akses biasa. Ia adalah nadi kehidupan warga.
Namun dalam beberapa waktu terakhir, kerusakannya kian parah. Lubang-lubang besar menganga, berubah menjadi perangkap tersembunyi saat hujan turun.
Keluhan pun bermunculan. Kekhawatiran tumbuh. Pertanyaan sederhana muncul: kapan diperbaiki?
Di tengah situasi itu, Kepala Desa Karang Patri memilih jalan yang tak biasa.
Tanpa menunggu proses panjang pencairan anggaran, tanpa menyandarkan diri pada alasan administrasi, ia memutuskan menggunakan uang pribadinya untuk memperbaiki jalan tersebut, Rabu (11/2/2026).
Dua truk bermuatan sirtu didatangkan. Material diturunkan, lubang-lubang besar ditutup, permukaan jalan diratakan. Tidak ada seremoni. Tidak ada baliho besar bertuliskan nama. Hanya kerja nyata yang langsung dirasakan manfaatnya.
Keputusan itu bukan sekadar tindakan teknis, tetapi pesan moral: keselamatan warga tidak boleh menunggu.
Ketua DPD AKPERSI Jawa Barat, Ahmad Syarifudin, C.BJ., C.EJ., menyebut langkah tersebut sebagai potret kepemimpinan yang lahir dari empati.
“Ini bukan soal proyek, ini soal keberanian dan hati nurani. Ketika seorang kepala desa rela mengeluarkan uang pribadi demi kepentingan masyarakat, itu adalah bentuk pengabdian yang tulus dan langka,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Ketua AKPERSI DPC Kabupaten Bekasi, Jhon Subur. Ia menilai tindakan tersebut sebagai bukti bahwa jabatan adalah amanah yang harus dijalankan dengan keberpihakan nyata.
“Warga tidak butuh janji panjang. Mereka butuh solusi. Dan solusi itu hari ini hadir. Ini contoh pemimpin yang tidak bersembunyi di balik kata ‘proses’, tetapi memilih bertindak,” tegasnya.
Bagi warga Kampung Lembang, mungkin ini hanya timbunan sirtu yang menutup lubang. Namun bagi mereka, ini adalah rasa aman yang kembali. Tidak lagi waswas saat melintas. Tidak lagi cemas saat hujan mengguyur.
Di tengah sorotan publik terhadap pembangunan dan kualitas infrastruktur daerah, langkah Kepala Desa Karang Patri menjadi pengingat bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari angka-angka besar di atas kertas.
Kadang, ia lahir dari keberanian satu orang untuk berkata: “Saya tidak akan membiarkan warga saya menunggu.”
Sebuah tindakan sederhana, namun sarat makna. Karena di balik setiap butir sirtu yang ditebar, ada kepedulian yang ditanam. Dan di atas jalan yang kini lebih rata itu, harapan warga kembali berjalan dengan lebih tenang.
(Ling)







