Jakarta – seputar indonesia.co.id – Pertanyaan sahabat, tentu ingin tahu lebih jauh tentang perantau “Urang Suliek Air” yang mempunyai perkumpulan kemasyarakatan SAS, mencapai 102 cabang terdapat di tanah air, bahkan sampai keluar negeri, Senin (26/1/2026).
WARGA SAS, MEMAKAI SIFAT AIR DALAM BERKIPRAHNYA
Sebenarnya warga Sulit Air itu memakai sifat air, kata Datuk Polong Kayo SH, pejabat LKAM di kecamatan Sepuluh Koto Diatas, kabupaten Solok, Jadi di nagari Sulit Air, bukan sulitnya air, tapi filsafat warga itu dalam berkiprahnya seperti sifat air.
Lima sifat air yang melekat kental dalam kehidupan warga Sulit Air, kata Datuk sungguh. Ia menambahkan, sifat air pertama adalah membersihkan yang kotor. Jadi dalam pergaulannya, suka mengatakan yang benar, benar dan salah, ya salah.
Sifat air berikutnya, mendinginkan yang panas, dengan maksud sebagai pelepas dahaga bagi yang haus dengan begitu tamu yang berkunjung biasanya mereka akan senang bila dapat memberi seteguk air, ada nasi yang diberi nasi.
Jika tidak ada air dan nasi, maka mereka sedih dan merasa berdosa. Bagaimanapun kita adalah bersaudara ? kata Datuk seraya membenarkan sifat air satu dua agaknya kurang dipahami oleh generasi sekarang apalagi mereka yang tinggal di kota, kecuali mereka Nyinyir bertanya kepada yang sudah berumur, akan mengerti Sulit Air.
Sifat air ketiga adalah suka mendinginkan yang panas, maksudnya adalah selalu tidak mempersoalkan hal hal yang bertentangan karena akibatnya bisa jadi pertengkaran, dan perpecahan. Makanya kebanyakan generasi perantau SAS terdahulu, pendiam tidak mau pendendam, semua masalah dikembalkan kepada penciptanya atau musyawarah untuk mufakat.
Negeri wesel
Sulit Air, dulu dijuluki negeri wesel, bila diperhatkan perantau negeri wesel itu, kebanyakan memakai sifat air, yang turun dari langit, jatuh ke bumi turun ke bagian yang rendah dan sampai mencapai air yang bersatu ke sungai dan mengalir untuk mencapai tujuan terakhir, yakni muara.
Jadi, air yang mengalir dari sungai menuju ke muara, sebelum sampai ke laut melalui muara, tentu akan banyak rintangan yang diterimanya, seperti.mengalami hempasan, tumbukkan, tiba di batu belok ke kiri dan kanan, sampai di tebing diterjunkan, ke bagian yang dalam, dan seterusnya, terus mengalir ke tempat – tempat yang rendah dan akhirnya mencapai juga muara.
Dengan demikian, warga SAS ini dalam berusaha dari pedagang, misalnya saat ini, dan dua – tiga tahun mendatang mereka telah menjadi pedagang menengah dan besar. Dari tidak memiliki tempat permanen berusaha, kemudian mempunyai toko yang tetap.
Begitu, juga bila jadi pegawai dari pegawai rendah, dikenal pegawai HONDA di Solok, seperti penulis alami, tiga tahun kemudian bisa jadi pegawai ASN melalui seleksi yang ketat, setahun kemudian diterima lulus menjadi mahasiswa STIA LAN Jakarta, yang menjadi idola oleh setiap PNS. Masuk STIA LAN, ke perguruan kedinasan tersebut, seperti masuk lobang penjahit, masuk sulit keluarpun sulit. Sebagian besar ASN drop out yang kuliah disana.
Selesai kuliah, penulis ditarik ke Pemda DKI Jakarta, langsung menjadi pejabat karena lulusan Sekolah Lembaga Administrasi Negara itu, wajib diberi jabatan karena telah meraih tiket untuk menduduki jabatan struktural eselon, hingga purna bakti pada masanya.
Mereka yang mencapai sukses, rata rata merangkak dari bawah setelah berjuang, seperti mengalir air dari gunung Salak di Bogor, hingga ke muara ANGKE di Jakarta Utara. Lain halnya, seperti CEO YARSI Profesor Yurnalis Uddin di Jakarta menjadi inisiator berdiri Yayasan Rumah Sakit Islam yang menjadi kebanggaan warga, baik di Jakarta maupun luar Jakarta.
Begitu juga dengan DR Happy Bone Zulkarnain, dulu sebagai pedagang kecil tapi tetap kuliah dan terjun ke dunia Jurnalistik, kemudian bergerak di politik, dua kali jadi anggota DPR RI. Sebagai putera pejuang LVRI, Happy Bone, tetap menekuni profesinya sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi di kota Bandung Raya. bersambung.
(Red)








