Breaking News
Kebanyakan masyarakat bertanya, Apa itu SAS ? Kami menjawab pertanyaan Sahabatku, wassalam Oleh Risman Thomas Sulit Air, Bukan Memperoleh Air yang Sulit Kebanyakan pelancong yang datang ke objek wisata di Sulit Air, Sumbar, sering bertanya – tanya. Kenapa Negari itu dijuluki “Sulit Air”. Sedangkan memperoleh air, tampaknya amat mudah di sana. Karena di pusat Negari itu terdapat sungai Katialo, yang airnya mengalir jernih di bawah “Titi” sebutan warga setempat mengalir tidak henti hentinya sampai ke muara Batang Ombilin di tepian danau Singkarak. Sungai Katialo, tampaknya hampir seluas Kali Ciliwung, dekat pusat keramaian pasar Rumput, Jakarta Selatan, dimana ditemukan banyak perantau Sulit Air, yang berjualan dalam berbagai kegiatan perdagangan. Dengan demikian, Sulit Air, bukan memperoleh air yang sulit karena ada Batang Katialo seluas Kali Ciliwung, setiap saat dapat digunakan untuk mandi, cuci, kakus ( MCK), bahkan untuk beruduk sekalipun. Sulit Air, sebuah Negari, dulu disebut dan kembali lagi menjadi Negari, setelah berubah menjadi nagari terdapat 13 jorong setingkat Rukun Warga (RW). Sulit Air, sebuah desa, kini disebut lagi Negari seluas 80 km persegi , terdapat objek wisata jenjang seribu, rumah 20 ruang dan batu galeh di jorong Taram, 2 Km dari pusat keramaian penduduk Sulit Air. Nagari yang berpenduduk tembus 120 juta lebih itu bertebar di 34 provinsi, bahkan ada yang merantau sampai keluar negeri, seperti Australia, sepuluh persen di antaranya yang menetap di kampung asal sebagai petani tradisional. Bersambung.. Tak Ingin Kecolongan, Kepala Desa Kertajaya Pantau Langsung Tanggul Kritis Di Kampung Teko Merasa Ditipu 180 Juta Anggota Gapoktan Laporkan Ketuanya di Kejati Sultra Haru!!! Rumah Hancur Diterjang Angin Dan Hujan Deras, “Ogun” Bocah Disabilitas Kini Kembali Tersenyum Bahagia Optimalkan Literasi dan Digitalisasi Keuangan. BPKAD Siap Sukseskan Catur Abipraya Mubarok

Tak Ingin Kecolongan, Kepala Desa Kertajaya Pantau Langsung Tanggul Kritis Di Kampung Teko

Pebayuran Bekasiseputar indonesia.co.id – Suasana kembali diliputi ketegangan dan kekhawatiran di Kampung Teko Tengah, RT 02/RW 04, Desa Kertajaya, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, Sabtu (24/1/2026). Intensitas hujan yang tinggi membuat kondisi tanggul Kali Citarum di wilayah tersebut berada dalam status kritis dan rawan jebol.

Tak ingin kecolongan dan demi keselamatan warganya, Kepala Desa Kertajaya, H. Acep Saepudin, turun langsung ke lokasi bersama jajaran pemerintah desa dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bergotong royong melakukan penanganan darurat pada tanggul yang terancam longsor.

Dengan peralatan seadanya, warga bersama aparat desa bahu-membahu menambal bagian tanggul yang kritis menggunakan karung berisi tanah serta balok kayu guna memperkuat struktur tanggul Kali Citarum.

“Kami bersama masyarakat dan jajaran pemerintah Desa Kertajaya bergotong royong menambal tanggul yang kritis dengan karung berisi tanah dan balok untuk menunjang kekuatan tanggul Kali Citarum,” ujar H. Acep Saepudin di sela kegiatan.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas kekompakan dan kepedulian warga dalam menghadapi potensi bencana. Berkat kerja sama yang solid antara masyarakat dan pemerintah desa, penanganan sementara tanggul kritis dapat teratasi.

“Alhamdulillah, atas kerja sama yang baik antara masyarakat dan pemerintah desa, kondisi tanggul yang kritis sementara ini dapat ditangani,” tambahnya.

Lebih lanjut, Kepala Desa Kertajaya mengimbau seluruh warga agar tetap siaga dan waspada, namun tidak panik. Ia juga mengajak masyarakat untuk terus berdoa agar potensi musibah segera berlalu dan kondisi kembali aman serta kondusif.

Upaya ini menjadi bukti nyata kepedulian pemerintah desa dalam melindungi warganya serta memperkuat semangat gotong royong di tengah ancaman bencana alam.

(Ling)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *