Jakarta – Seputra indonesia.co.id – Lingkungan strategis global dan domestik yang tidak pasti, mencakup kondisi geopolitik, kebijakan perdagangan internasional, fluktuasi permintaan dan harga komoditas, hingga perubahan iklim ekonomi makro memberikan tekanan signifikan pada perekonomian suatu negara.
Bagi Indonesia, ketidakpastian ini menjadi tantangan utama dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi tahun 2026 di tengah proyeksi pertumbuhan moderat sekitar 5%–5,8% dari berbagai lembaga.
Ketidakpastian lingkungan strategis meliputi faktor eksternal seperti kebijakan proteksionis, perang dagang, dinamika suku bunga global, dan ketidakpastian geopolitik, serta faktor internal seperti kebijakan fiskal domestik, stabilitas harga dan suku bunga, dan kondisi sosial-ekonomi masyarakat. Dampaknya dirasakan baik pada tingkat makroekonomi (nasional) maupun mikroekonomi (unit usaha dan rumah tangga).
*Dampak terhadap Ekonomi Makro Indonesia*
a. Pertumbuhan Ekonomi dan Investasi
– Ketidakpastian global seperti perlambatan ekonomi mitra utama Indonesia (mis. AS, China) cenderung menekan permintaan ekspor dan investasi asing langsung (FDI), sehingga memengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional. Ketidakpastian ini bisa memperlambat realisasi target pertumbuhan yang agresif di bawah tekanan global yang masih berat pada 2026.
– Ketidakpastian fiskal domestik juga dapat mempengaruhi sentimen investor baik asing maupun lokal. Investor umumnya berhati-hati dan menahan ekspansi ketika kebijakan ekonomi tidak stabil atau tidak jelas, yang bisa berdampak pada arus modal masuk dan nilai tukar rupiah.
b. Inflasi dan Nilai Tukar
– Fluktuasi harga komoditas dunia, seperti minyak dan bahan pangan utama, dapat menciptakan tekanan inflasi tak terduga apabila terjadi lonjakan harga. Di sisi lain, harga komoditas turun drastis juga bisa merusak pendapatan ekspor Indonesia. Ketidakpastian pasar global juga memengaruhi nilai tukar rupiah yang pada gilirannya berdampak pada biaya impor dan stabilitas harga domestik.
– Pemerintah, melalui asumsi dasar makro, perlu mengantisipasi volatilitas nilai tukar dan suku bunga. Asumsi makro ini mencerminkan kecilnya ruang gerak dalam menghadapi dinamika global yang tidak menentu di tahun 2026.
c. Kebijakan Fiskal dan Defisit Anggaran
– Ketidakpastian lingkungan strategis membuat perencanaan fiskal harus mempertimbangkan variasi besar dalam proyeksi pendapatan negara. Serangkaian kebijakan fiskal seperti insentif untuk UMKM dan bantuan sosial disiapkan untuk menjaga daya beli dan konsumsi. Namun, kemunculan risiko eksternal dapat memperluas defisit anggaran jika pendapatan negara turun secara tajam akibat pelemahan pertumbuhan ekonomi global.
*Dampak terhadap Ekonomi Mikro*
a. Produktivitas dan Kelangsungan Usaha
– Pada tingkat mikro, usaha kecil dan menengah (UMKM) dan perusahaan besar menghadapi tantangan dalam perencanaan bisnis jika ketidakpastian tinggi. Biaya modal yang tidak stabil, gangguan rantai pasok global, dan perubahan tiba-tiba dalam permintaan konsumen menjadikan lingkungan usaha sulit diprediksi. Strategi jangka pendek seperti pemotongan biaya atau penundaan investasi sering kali menjadi respons utama pelaku usaha.
– Ketidakpastian ini juga mendorong banyak perusahaan untuk berfokus pada survival (bertahan) ketimbang ekspansi pertumbuhan, yang dapat memperlambat penciptaan lapangan kerja dan produktivitas di sektor formal maupun informal.
b. Daya Beli Rumah Tangga dan Ketimpangan
– Ketidakpastian ekonomi dan kenaikan harga barang pokok berdampak langsung pada daya beli rumah tangga, terutama kelompok berpendapatan rendah. Fluktuasi harga pangan dan energi berpotensi memperlebar kesenjangan sosial dan memperburuk kemiskinan jika tidak ditangani melalui kebijakan perlindungan sosial yang efektif.
– Selain itu, ketidakpastian di pasar tenaga kerja (mis. PHK atau jam kerja berkurang) menyebabkan rumah tangga mengurangi konsumsi, yang akhirnya berdampak negatif pada permintaan agregat dalam perekonomian.
c. Perubahan Perilaku Konsumen dan Perusahaan
– Ketidakpastian juga mendorong perubahan perilaku konsumen dan perusahaan. Konsumen mungkin menunda pengeluaran besar dan meningkatkan tabungan sebagai langkah protektif, sementara perusahaan cenderung menunda investasi baru sampai kondisi lebih stabil. Hal ini bisa menciptakan spiral kontraksi permintaan agregat yang memperlambat dinamika ekonomi dalam jangka menengah.
*Strategi Menghadapi Ketidakpastian*
Untuk mengatasi tekanan lingkungan strategis yang tidak pasti, pemerintah Indonesia di tahun 2026 mengarahkan kebijakan fiskal dan moneter yang responsif, termasuk menjaga stabilitas makroekonomi, memberi insentif bagi sektor produktif dan UMKM, serta memperkuat ketahanan pangan dan energi guna mengurangi ketergantungan impor.
Selain itu, sinergi kebijakan fiskal-moneter, peningkatan investasi di sektor digital dan infrastruktur, serta reformasi struktural diharapkan meningkatkan produktivitas nasional dan menciptakan lapangan kerja yang berkualitas.
Dengan demikian, ketidakpastian lingkungan strategis berdampak signifikan pada ekonomi makro Indonesia melalui pertumbuhan ekonomi, investasi, inflasi, nilai tukar, dan perencanaan fiskal.
Pada tingkat mikro, ketidakpastian mempengaruhi operasi perusahaan, perilaku konsumen, dan kesejahteraan rumah tangga. Meski ancaman eksternal terus ada, kebijakan yang tepat dan adaptif dapat membantu mensinergikan stabilitas makro dengan pemberdayaan ekonomi mikro, sehingga target pembangunan 2026 tetap dapat dikejar dengan risiko yang termitigasi.
(Red)








