Jakarta – seputar indonesia.co.id – Mencermati situasi beberapa bulan terakhir ini, saya ingin mengingatkan agar kita semua tidak terjebak ke dalam perangkap kebencian kolektif, multi strata dan tanpa disadari. Perangkap Kebencian pada awalnya merupakan sebuah frasa yang ada pada Buku ‘Silent Scream – Perangkap Kebencian’ karya Karen Rose. Frasa ini akhirnya berkembang untuk menggambarkan situasi di mana seseorang atau kelompok terjebak dalam lingkaran kebencian, baik secara emosional, sosial, maupun politis. Pada akhirnya bisa terakumulasi menjadi perangkap kebencian terhadap suatu institusi yang bertujuan untuk menimbulkan rasa benci, permusuhan, atau penghinaan terhadap suatu institusi, baik secara lisan maupun tulisan “, ujar Pemerhati Politik Dede Farhan Aulawi di Bandung, Kamis (28/8/2025).
Hal ini ia sampaikan ketika menjawab pertanyaan dari media yang masuk ke telepon selulernya. Menurutnya, perangkap kebencian terhadap institusi adalah suatu kondisi psikologis, sosial, atau ideologis di mana individu atau kelompok mulai membenci atau menolak legitimasi suatu institusi secara menyeluruh dan tanpa kecuali. Hal tersebut bisa dianggap ‘perangkap’ karena munculnya Generalisasi Berlebihan. Kebencian terhadap satu bagian dari institusi terkadang sering digeneralisasi menjadi kebencian terhadap seluruh institusi. Akibatnya solusi yang konstruktif diabaikan, dan semua bentuk otoritas atau struktur dipandang sebagai ‘musuh’.
Pada kesempatan tersebut, ia pun menyampaikan bahwa ketika seseorang masuk ke dalam perangkap ini, mereka tidak hanya kehilangan kepercayaan, tetapi juga menolak semua bentuk reformasi atau perbaikan. Sikap ini menciptakan sikap nihilistik, yaitu sikap yang memiliki pandangan bahwa “Semuanya rusak dan tidak bisa diperbaiki “. Juga muncul penolakan terhadap kolaborasi, bahkan inisiatif positif pun ditolak karena dianggap bagian dari sistem.
Orang yang terjebak dalam kebencian terhadap institusi lebih rentan dimanipulasi oleh :
– Teori konspirasi yang menyederhanakan kompleksitas menjadi narasi “kami vs mereka”.
– Kelompok ekstrem yang menawarkan “kebenaran alternatif” atau sistem tandingan
Ironisnya, kebencian terhadap institusi sering menyamar sebagai bentuk “kesadaran kritis”. Padahal, kebencian total sama dengan ingin menghancurkan tanpa arah. Hal ini membuat perbedaan antara berpikir kritis dan berpikir destruktif menjadi kabur. Disamping itu, hal ini juga bisa menimbulkan polarisasi sosial dimana masyarakat bisa terpecah menjadi pro dan kontra tanpa ruang dialog.
Dalam kondisi tertentu, hal ini akanmelahirkan apa yang disebut Isolasi pribadi, yaitu individu i individu yang sulit mempercayai orang lain, bahkan dalam hubungan sehari-hari. Kemudian disusul dengan stress atau frustrasi berkepanjangan karena selalu merasa ada dinding tebal yang menghambat harapannya, sehingga menganggap hanya ada satu kata ‘LAWAN’.
“ Dalam konteks ini perlu diingat bahwa bedakan antara institusi dan oknum, meskipun jumlah oknumnya mungkin cukup banyak. Institusi bisa rusak, tapi bukan berarti semua bagiannya busuk. Untuk itulah diperlukan kritik konstruktif yang fokus pada solusi dan jalur perubahan. Jaga keberagaman sumber informasi dengan bijak agar mampu menghindari gelembung informasi yang memperkuat kebencian. Latih empati struktural, yaitu pemahaman kenapa institusi seperti institusi hukum atau pemerintahan dibutuhkan, meskipun implementasinya belum ideal “, pungkasnya.
(Red)