News  

Adv. Muhamad Zarkasih,SH.,MH Ketua BPW Peradin,Apresiasi Pemilu 2024 Berjalan Dengan Aman dan Damai

Jakarta – Seputarindonesia.co.id – Pesta demokrasi 2024 usai sudah, dengan hasil yang telah sama-sama diketahui oleh masyarakat.Negeri ini akan memiliki anggota legislatif baru di parlemen – baik yang benar-benar baru mau pun yang incumbent – juga akan memiliki presiden dan wakil presiden baru.Rasanya terbayar sudah energi yang dikeluarkan oleh seluruh rakyat yang memiliki hak memilih mau pun hak dipilih.Pemilu 2024 berlangsung dengan aman dan damai, meski tetap ada gesekan-gesekan namun sama sekali tidak menjadi gangguan yang signifikan.Jum’at (29/03/2024).

Adv. Muhamad Zarkasih,SH.,MH Ketua BPW Peradin Jakarta,mengungkapkan dari
hasil pemilu 2024 ini tentu saja yang paling menarik perhatian adalah pemilihan presiden dan wakil presiden, karena memang yang dipilih adalah 2 (dua) orang yang dianggap pantas dan kredibel untuk menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI.Karena begitu sangat pentingnya posisi presiden dan wakil presiden,maka kontestasinya pun berjalan sangat dinamis. Rasanya semua orang ingin terlibat di dalam narasi tentang pilpres itu.Dari mulai guru besar di kampus hingga petani yang buta huruf,dari mulai konglomerat hingga pengangguran,semua ikut bicara, semua ikut gelombang narasi yang luar biasa dahsyatnya.Narasinya pun beragam, mulai yang bernilai ilmiah hingga yang hanya sekedar hoax/fitnah Dan itu wajar saja, harus pula dianggap sebagai bagian dari rasa cinta rakyat kepada bangsa dan negaranya.

 

“Yang justru agak memprihatinkan adalah, bahwa setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan hasil pilpres, masih muncul narasi-narasi yang terkesan ‘merusak’ nilai demokrasi itu sendiri.Seperti kita ketahui bersama bahwa hasil pilpres 2024 lalu adalah,pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar memperoleh 40.971.906 suara, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka 96.214.691 suara dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD 27.040.878 suara dari hasil itu bisa terlihat bahwa perbedaan suara antara satu pasangan dengan pasangan lain sangatlah jauh. Perbedaan yang sangat jauh itulah yang memunculkan keanehan / dianggap aneh ketika kemudian masih terdengar suara-suara ketidak-puasan atas hasil pilpres. Maka beredarlah narasi tentang kecurangan, keberpihakan pihak tertentu terhadap capres tertentu, bahkan juga proses administratif capres dan cawapres pun dimunculkan justru pada saat pemilu telah usai, padahal sebenarnya urusan administrasi itu berada di waktu yang jauh sebelum proses pemilu dimulai,”ungkapnya Adv. Muhamad Zarkasih,SH.,MH.

 

Lanjutnya Adv. Muhamad Zarkasih,SH.,MH,menjelaskan tidak ada kemenangan yang membuat semua orang bahagia, seperti juga tidak ada kekalahan yang membuat semua orang sedih. Setiap orang berdiri pada posisinya masing-masing dan berhak pula mengekspresikan apa yang ia dapatkan. Namun sangatlah kurang elok jika sebuah kontestasi yang diikuti oleh kontestan lalu dianggap sebagai sesuatu yang tidak sah, justru di saat kontestasi itu telah berakhir. Bukankah di dalam sebuah kompetisi orang hanya diminta untuk bersiap atas dua kemungkinan: kemungkinan menang atau kemungkinan kalah? Kemenangan dan kekalahan di dalam sebuah kompetisi adalah sebuah keniscayaan, bukan?.

“Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka telah disahkan secara undang-undang pemilu sebagai pemenang dan akan menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI yang akan datang. Ada landasan hukum yang membuat mereka berdua akan berada di tampuk kekuasaan selama lima tahun ke depan. Bahwa kemudian ada penolakan atau apa pun namanya, memang secara undang-undang pun dibenarkan, sepanjang mengikuti proses atau mekanisme hukum yang ada.Yang tak patut adalah memberikan penolakan tanpa dasar hukum yang pasti, hanya berangkat dari sisi like and dislike.Pemilu adalah sebuah proses demokrasi yang memiliki nilai obyektivitas, bukan ajang untuk menunjukkan subyektivitas secara personal,”jelasnya Adv. Muhamad Zarkasih,SH.,MH.

Sambungnya Adv. Muhamad Zarkasih,SH.,MH,menerangkan
memilih presiden dan wakil presiden sejatinya adalah untuk terus memutar pergerakan roda keberlangsungan bangsa dan negara. Lalu bagaimana roda itu akan bergerak jika dibebani oleh konflik yang berkepanjangan, konflik-konflik yang justru mengorbankan rakyat banyak?. Ketika kontestasi usai, seharusnya semua berada dalam lingkaran kolaborasi untuk melanjutkan perjalanan bangsa dan negara, tidak lagi terus meributkan hasil pemilu. Jika yang kalah yakin akan menang, lakukanlah itu nanti pada lima tahun mendatang.

 

Keriuhan seusai pilpres pun terlihat makin tak jelas arahnya, karena menyasar ke soal kedudukan Presiden yang masih menjabat. Ada upaya untuk memakzulkan Presiden RI yang usia jabatannya hanya tinggal hitungan bulan. Ini aneh dan menggelikan. Anggap saja Presiden benar bisa dimakzulkan, lalu akan seperti apa yang diharapkan? Apakah menginginkan kekosongan pemerintahan atau memberlakukan keadaan darurat? Pertanyaan paling mendasar adalah: apa manfaat bagi rakyat jika Presiden dimakzulkan? Tentu semua paham bahwa kekosongan pemerintahan atau situasi darurat hanya akan membuat negara ini terpuruk secara sosial, ekonomi dan politik.

 

“Mari sudahi keriuhan tak bermanfaat ini. Dengan segala niat baik terhadap bangsa dan negara dukunglah Presiden dan Wakil Presiden terpilih. Tentu saja dukungan yang tak menafikan sikap kritis sebagai rakyat. Bahwa Pemilu 2024 masih menyisakan beberapa kekurangan, biarlah itu menjadi catatan untuk perbaikan di pemilu selanjutnya. Perjalanan bangsa dan negara ini masih panjang, jangan biarkan hanya berjalan di tempat hanya karena semua orang sibuk bertengkar hingga lupa menderapkan langkah secara bersama,maju dan jayalah NKRI tercinta.Salam Patriot,”pungkasnya Adv. Muhamad Zarkasih,SH.,MH, Salam Patriot.

 

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *